AI Bangkitkan Kembali Orang Tersayang: Antara Terapi Duka dan Jerat Etika
Baca dalam 60 detik
- Startup Korea Selatan Vaice dan JL Standard menawarkan video AI almarhum, menarik 300 pelanggan per bulan dengan harga mulai Rp6 juta.
- Praktik ini memicu perdebatan: membantu proses berduka atau menghambat penerimaan kematian, terutama dengan potensi 'griefbot' interaktif.
- Para ahli mendesak regulasi segera untuk melindungi hak dan martabat almarhum, serta mencegah penyalahgunaan komersial data pribadi.

Seorang pemuda Korea Selatan, Lee Geon Hui (28), memutuskan memberikan kado spesial untuk ayahnya: sebuah video animasi buatan kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan sosok kakeknya yang telah meninggal. Dalam video berdurasi pendek itu, sang kakek virtual memanggil ayahnya "anakku yang paling berharga", meminta maaf karena dulu menyuruhnya bekerja di ladang, dan menyesali penentangannya terhadap pilihan karier sang anak sebagai penata rambut. "Ayah saya bilang tidak akan menontonnya. Tapi akhirnya dia menonton dan menangis. Saya merasa usaha saya terbayar," ujar Lee.
Fenomena ini bukan sekadar cerita pribadi. Semakin banyak warga Korea Selatan yang melek teknologi memanfaatkan AI untuk menghidupkan kembali orang tercinta yang telah tiada. Sejumlah startup seperti Vaice dan JL Standard menawarkan jasa pembuatan video rekaan digital almarhum, sementara stasiun televisi menayangkan versi AI dari bintang pop dan aktor yang sudah wafat. Industri yang baru lahir ini memicu harapan sekaligus kekhawatiran. Di satu sisi, ia bisa menjadi penghibur bagi yang berduka; di sisi lain, ia membuka persoalan etika, psikologis, dan hukum yang rumit.
Menurut Jeongu Won, CEO Vaice, perusahaannya melayani sekitar 300 pelanggan setiap bulan, kebanyakan berusia 40-50 tahun yang ingin melihat kembali orang tua mereka. Harga untuk video dasar 3-5 menit adalah 600.000 won (sekitar Rp6,9 juta). Cukup dengan beberapa foto dan sampel suara pendek, AI dapat menciptakan kemiripan yang meyakinkan. Banyak pelanggan memutar video tersebut saat acara keluarga atau hari raya, dengan naskah yang mereka tulis sendiri. "Mayoritas menyisipkan kata 'aku cinta kamu', dan beberapa mengungkapkan penyesalan atas konflik masa lalu yang tak terselesaikan," kata Won.
Namun, di balik kisah haru, para pengamat memperingatkan risiko simulasi orang mati. Choung Wan, profesor emeritus hukum di Kyung Hee University, menekankan perlunya undang-undang yang melindungi martabat dan hak almarhum. "Pembuatan versi AI dari orang yang sudah meninggal harus dilarang jika semasa hidupnya ia menolak, dan penggunaan komersial gambar serta suara harus dibatasi secara ketat," tegasnya. Kekhawatiran ini makin relevan dengan kemunculan 'griefbot' atau 'deathbot'โAI yang mampu melakukan percakapan dua arah dengan orang yang berduka. Startup-startup sudah mulai mengembangkan produk semacam itu.
Dari sudut pandang psikologis, proses berduka yang sehat memerlukan pengakuan atas ketiadaan almarhum dan penerimaan rasa kehilangan. "Berbicara dengan sistem AI yang mensimulasikan orang hidup justru bisa merusak proses penerimaan kematian dan menjebak keluarga dalam fantasi," ujar Choung. Won sendiri mengaku berhati-hati untuk meluncurkan layanan chatbot karena khawatir percakapan real-time yang tak terawasi bisa menimbulkan masalah etis yang tak terduga.
Di Indonesia, fenomena ini belum marak namun patut dicermati. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan budaya menghormati leluhur, layanan serupa berpotensi diminati. Namun, regulasi perlindungan data pribadi dan hak digital di Indonesia masih dalam tahap awal. Jika tidak diantisipasi, praktik ini bisa menimbulkan masalah baru, seperti penyalahgunaan data pribadi almarhum atau komersialisasi duka yang tidak etis. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mulai berdiskusi tentang kerangka hukum yang melindungi warisan digital seseorang.
Ke depannya, tantangan teknologi juga masih ada. Yong Man Ro, pakar AI dari Korea Advanced Institute of Science and Technology, mencatat bahwa chatbot interaktif masih memiliki kelemahan, seperti ketidaksesuaian antara ucapan dan ekspresi wajah, serta kecenderungan terasa kurang manusiawi dalam percakapan panjang. Namun, upaya untuk memperpanjang durasi percakapan terus dilakukan. Ro sendiri pernah membuat video AI orang tuanya yang telah meninggal dan menontonnya bersama saudara-saudaranya. "Satu kali saja cukup untuk menghormati mereka. Kami sudah move on," katanya. Pertanyaannya, akankah teknologi ini menjadi alat bantu duka yang sehat, atau justru menjerumuskan pengguna ke dalam ilusi yang tak berujung?



