Vietnam Kirim 82 Personel Militer ke Venezuela untuk Misi Gempa: Ketiga Kalinya dalam Operasi Luar Negeri
Baca dalam 60 detik
- Vietnam mengerahkan 82 personel militer ke Venezuela untuk misi pencarian dan penyelamatan pascagempa, menandai operasi kemanusiaan luar negeri ketiga mereka.
- Misi ini melanjutkan jejak Vietnam dalam bantuan gempa internasional, setelah Turkiye (2023) dan Myanmar (2025), dengan jumlah personel yang konsisten.
- Langkah ini memperkuat citra Vietnam sebagai mitra tanggap bencana global, sekaligus membuka peluang kerja sama serupa dengan Indonesia di masa depan.

Vietnam, pada Minggu (28/6), memberangkatkan 82 personel militer dari berbagai satuan, termasuk pasukan perbatasan dan medis, ke Venezuela untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan pascagempa bumi dahsyat yang baru saja melanda negara tersebut. Misi ini menjadi yang ketiga kalinya Tentara Rakyat Vietnam turun dalam operasi bantuan bencana internasional, seperti dilaporkan harian lokal VnExpress.
Keikutsertaan Vietnam dalam misi kemanusiaan luar negeri bukanlah hal baru. Pada Februari 2023, Hanoi mengirim 76 personel militer ke Turkiye setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,8 menewaskan lebih dari 43.500 jiwa. Dua tahun berselang, pada Maret 2025, sebanyak 80 personel dikerahkan ke Myanmar pascagempa magnitudo 7,7 yang merenggut lebih dari 3.000 korban jiwa. Pola pengiriman personel yang konsisten—berkisar antara 76 hingga 82 orang—menunjukkan kesiapan logistik dan standardisasi prosedur tanggap darurat Vietnam.
Misi ke Venezuela ini memiliki arti strategis tersendiri. Venezuela, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan politik berkepanjangan, memiliki kapasitas respons bencana yang terbatas. Kehadiran tim Vietnam tidak hanya memberikan bantuan teknis, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik kedua negara yang selama ini terjalin dalam kerangka sosialis. Bagi Vietnam, operasi ini sekaligus menjadi ajang unjuk kemampuan militer di kancah global, sejalan dengan ambisi mereka untuk memainkan peran lebih besar dalam urusan kemanusiaan internasional.
Bagi Indonesia, langkah Vietnam ini patut dicermati. Sebagai negara yang juga rawan gempa dan aktif dalam misi kemanusiaan, Indonesia dapat belajar dari pengalaman Vietnam dalam membangun sistem mobilisasi personel yang cepat dan terstandarisasi. Kerja sama bilateral dalam bidang penanggulangan bencana, seperti pertukaran pengetahuan dan latihan bersama, bisa menjadi agenda strategis ke depan. Apalagi, Indonesia dan Vietnam sama-sama anggota ASEAN dan sering berbagi pengalaman dalam misi kemanusiaan regional.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Vietnam akan terus memperluas jangkauan misi kemanusiaannya ke kawasan lain, seperti Afrika atau Amerika Latin, dan bagaimana hal ini akan memengaruhi dinamika geopolitik di kawasan. Dengan pengalaman tiga misi dalam waktu tiga tahun, Vietnam tampaknya serius membangun reputasi sebagai negara yang siap membantu tanpa pamrih—sebuah modal diplomatik yang tak ternilai.



