Skotlandia Tersingkir dari Piala Dunia 2026: Mimpi yang Kembali Pupus
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan Brasil dan kemenangan Kroasia atas Ghana memastikan Skotlandia gagal melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026.
- Catatan buruk Skotlandia di turnamen besar berlanjut: dari sembilan Piala Dunia dan empat Piala Eropa, tak sekali pun lolos dari fase grup.
- Dengan hanya satu gol dan tiga poin, skuad asuhan Steve Clarke harus mengakui ketimpangan kualitas di Grup C yang dihuni dua tim top 10 dunia.

Skotlandia resmi mengucapkan selamat tinggal pada Piala Dunia 2026 setelah Kroasia mengalahkan Ghana 2-1 di Grup L, Rabu (24/6) waktu setempat. Hasil itu memupus harapan Skotlandia yang masih bergantung pada hasil laga lain untuk menjadi salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik. Ini menjadi kegagalan ke-13 secara beruntun bagi Skotlandia dalam melewati fase grup turnamen besar β sebuah rekor yang kian mempertebal stigma 'underachiever' di kancah sepak bola global.
Perjalanan Skotlandia di Amerika Serikat dimulai dengan manis. Kemenangan tipis 1-0 atas Haiti melalui gol John McGinn menjadi kemenangan perdana mereka di Piala Dunia setelah 36 tahun. Namun, euforia itu cepat memudar. Hadangan Maroko, semifinalis edisi 2022, yang hanya butuh dua menit untuk mencetak gol kemenangan, memperlihatkan jurang kualitas yang dalam. Laga pamungkas melawan Brasil di Miami menjadi puncak nestapa: tiga gol tanpa balas, dua di antaranya lahir dari kesalahan fatal di lini belakang.
Kegagalan ini bukan sekadar catatan statistik. Bagi pengamat sepak bola, ini adalah cermin dari masalah struktural yang lebih dalam. Skotlandia memang produktif di kualifikasi β kemenangan dramatis atas Denmark di Hampden Park pada November lalu menjadi bukti β tetapi saat berhadapan dengan tim papan atas, kelemahan fundamental kerap terekspos. Mantan striker Inggris, yang namanya tidak disebutkan dalam laporan, pernah mengkritik filosofi sepak bola Skotlandia yang terlalu pragmatis dan minim keberanian mengambil risiko. Kritik itu kembali relevan setelah Skotlandia gagal mencatatkan tembakan tepat sasaran di babak kedua melawan Brasil.
Bagi Indonesia, kegagalan Skotlandia menyajikan pelajaran berharga. Timnas Garuda, yang tengah berjuang menembus Piala Dunia, menghadapi tantangan serupa: bagaimana membangun tim yang tidak hanya kompetitif di kualifikasi, tetapi juga mampu bersaing di panggung utama. Regenerasi pemain, kualitas kompetisi domestik, dan mentalitas bertanding menjadi faktor krusial yang perlu dibenahi. Jika Skotlandia β dengan sejarah panjang dan basis penggemar fanatik β masih kesulitan, Indonesia harus bekerja lebih keras lagi.
Ke depan, Steve Clarke kemungkinan besar akan tetap memegang kendali, mengingat kontraknya masih panjang. Namun, pertanyaan besar menggantung: akankah Skotlandia mampu memutus rantai kegagalan ini di Piala Eropa 2028, atau justru semakin terperosok dalam siklus yang sama? Sementara itu, bagi para pemain seperti McGinn dan Andy Robertson, usia tak lagi berpihak. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir mereka merasakan manisnya lolos dari fase grup β sebuah mimpi yang kembali pupus di tanah Amerika.



