Rasis Online Kembali Menerpa Pemain Belanda Usai Gagal Penalti Lawan Maroko
Baca dalam 60 detik
- Tiga pemain Belanda menjadi sasaran ujaran kebencian di media sosial setelah gagal mengeksekusi penalti dalam laga Piala Dunia U-20 melawan Maroko.
- KNVB akan melaporkan kasus ini ke platform pelaporan diskriminasi online dan berpotensi membawanya ke ranah pidana.
- Insiden ini mengingatkan pada kasus serupa yang menimpa pemain Inggris pada Euro 2020, yang berujung pada hukuman penjara bagi para pelaku.

Gelaran Piala Dunia U-20 di Meksiko kembali diwarnai insiden rasis yang menargetkan pemain yang gagal dalam adu penalti. Tiga penggawa Belanda—Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville—menerima banjir komentar diskriminatif dan bernada kebencian di media sosial setelah tim mereka kalah 2-3 dari Maroko pada babak 32 besar, Senin (29/6) waktu setempat.
Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) langsung bereaksi keras. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (30/6), KNVB menyatakan akan mengajukan laporan ke platform 'Meld Online Discriminatie' (Lapor Diskriminasi Online). "Kami merasa ngeri dengan hal ini. Setelah laporan diajukan, staf hukum mereka akan menilai apakah pernyataan tersebut merupakan pelanggaran yang dapat dihukum. Ini bisa berujung pada pengaduan resmi ke Kejaksaan, yang kemudian dapat memulai penyelidikan pidana," tegas KNVB.
Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi di turnamen besar. Pada final Euro 2020, Marcus Rashford, Bukayo Saka, dan Jadon Sancho dari Inggris juga menjadi sasaran pelecehan rasis setelah gagal penalti melawan Italia. Dua orang dijatuhi hukuman penjara dan satu lainnya mendapat hukuman percobaan. Polisi Inggris bahkan menangkap puluhan orang dalam operasi besar-besaran terhadap ujaran kebencian online.
KNVB menekankan bahwa sepak bola seharusnya menyatukan, bukan memecah belah. "Sepak bola menyatukan jutaan orang dari berbagai latar belakang, sedangkan diskriminasi melakukan hal sebaliknya. Ini bertentangan dengan segala hal yang diperjuangkan sepak bola," ujar perwakilan KNVB.
Di Indonesia, meskipun belum ada kasus serupa yang menonjol di level nasional, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital dan penegakan hukum terhadap ujaran kebencian di dunia maya. Dengan semakin maraknya interaksi penggemar sepak bola di media sosial, risiko perundungan siber terhadap pemain—terutama yang gagal dalam momen krusial—semakin nyata. Regulasi seperti UU ITE dan upaya kepolisian siber perlu terus diperkuat untuk memberikan efek jera.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah federasi sepak bola global, FIFA, akan mengambil langkah lebih sistematis untuk melindungi pemain dari serangan rasis online. Tanpa tindakan tegas dan terkoordinasi, siklus kebencian ini berpotensi terulang di setiap turnamen besar.



