Geng Peretas Cl0p Klaim Curi Data Puluhan Perusahaan Global: Shell, Philips, hingga GE Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Kelompok peretas Cl0p mengaku membobol data hampir 50 perusahaan besar dunia, termasuk Philips, Shell, Fiserv, dan GE, melalui celah keamanan pada perangkat lunak PTC Windchill dan FlexPLM.
- Sejumlah korban seperti Philips dan Shell telah mengonfirmasi adanya upaya peretasan, sementara Fiserv menyatakan belum menemukan bukti kebocoran data pelanggan atau sistem operasional mereka.
- Serangan ini menyoroti tren baru kejahatan siber yang mengeksploitasi kerentanan zero-day pada perangkat lunak industri, berpotensi berdampak pada rantai pasok global dan perusahaan di Indonesia yang menggunakan teknologi serupa.

Kelompok peretas Cl0p, yang dikenal agresif mengeksploitasi celah keamanan perangkat lunak, mengklaim telah mencuri data dalam jumlah besar dari hampir 50 perusahaan di berbagai negara. Dalam unggahan di situs mereka, para peretas menyebut nama-nama besar seperti Philips, Shell, Fiserv, dan GE sebagai korban. Klaim ini memicu kekhawatiran baru akan kerentanan sistem industri yang selama ini dianggap aman.
Philips, perusahaan teknologi kesehatan asal Belanda, membenarkan bahwa mereka menjadi sasaran serangan Cl0p. Dalam pernyataan resminya, Philips menyatakan telah mengidentifikasi dan menahan upaya kompromi pada server perusahaan yang terkait dengan data internal. Namun, mereka menegaskan insiden ini tidak berdampak pada lingkungan pelanggan. Sementara itu, Shell mengaku mengetahui adanya "insiden yang mungkin terjadi" dan tengah menyelidiki bersama tim keamanan dan ahli terkait.
Fiserv, penyedia layanan pembayaran global, juga angkat bicara. Juru bicaranya mengatakan perusahaan mengetahui klaim dari pelaku ancaman, tetapi berdasarkan peninjauan menyeluruh sejauh ini, belum ada bukti bahwa data pelanggan, perbankan, transaksi, atau data pribadi telah dikompromikan. Mereka juga menegaskan lingkungan operasional tidak terpengaruh. GE, salah satu korban yang disebut, belum memberikan tanggapan hingga berita ini diturunkan.
Menurut Ransom-ISAC, sebuah kelompok berbagi informasi industri, Cl0p diduga mengeksploitasi kerentanan pada PTC Windchill dan FlexPLM, perangkat lunak yang digunakan untuk proses rekayasa dan manufaktur. PTC, perusahaan pengembang perangkat lunak yang berbasis di Boston, telah menerbitkan beberapa peringatan keamanan sejak 18 Juni, mendesak pelanggan untuk segera memasang patch. Namun, hingga kini PTC belum menanggapi permintaan komentar terkait klaim Cl0p.
Brandon Parsons, manajer intelijen ancaman di Ascent Solutions dan penulis advisory Ransom-ISAC, menjelaskan bahwa Cl0p mulai mengirimkan notifikasi ke sejumlah perusahaan pada 19-20 Juli. Menurutnya, kelompok ini tidak menargetkan perusahaan tertentu, melainkan mengeksploitasi kerentanan zero-day pada perangkat lunak yang banyak digunakan. "Mereka tidak benar-benar menargetkan perusahaan tertentu, mereka menargetkan kerentanan zero-day tertentu dan mengejarnya," ujar Parsons, menyebut mereka sebagai "pemeras data profesional".
Serangan ini menjadi pengingat akan meningkatnya ancaman siber yang menyasar rantai pasok global. Banyak perusahaan di Indonesia, terutama yang bergerak di sektor manufaktur dan energi, menggunakan perangkat lunak serupa untuk mendukung operasional mereka. Jika celah keamanan ini tidak segera ditutup, bukan tidak mungkin perusahaan-perusahaan di Tanah Air menjadi sasaran berikutnya. Otoritas keamanan siber nasional, seperti BSSN, perlu mewaspadai potensi serangan yang memanfaatkan kerentanan yang sama.
Hingga berita ini ditulis, Reuters belum dapat memverifikasi secara independen klaim Cl0p mengenai jenis dan jumlah data yang dicuri. Para peretas juga tidak menanggapi permintaan komentar. Namun, pola serangan yang terstruktur dan penggunaan kerentanan zero-day menunjukkan bahwa Cl0p adalah aktor yang canggih dan terorganisir.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana data yang dicuri akan disalahgunakan, dan apakah perusahaan-perusahaan lain yang menggunakan perangkat lunak PTC akan segera mengambil langkah mitigasi. Insiden ini juga menegaskan pentingnya manajemen patch yang ketat dan pemantauan ancaman secara proaktif, terutama di tengah meningkatnya serangan siber yang menargetkan infrastruktur kritis. Apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia akan belajar dari insiden ini sebelum terlambat?



