Sandisk Targetkan Pertumbuhan Pendapatan Dua Digit Hingga 2030, AI Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Sandisk memproyeksikan pendapatan tumbuh 15-19% per tahun pada 2028-2030, seiring ekspansi infrastruktur AI global.
- Kontrak dengan delapan pelanggan, termasuk tiga hyperscaler AS, mengunci 50-67% kapasitas produksi hingga 2028.
- Teknologi High Bandwidth Flash (HBF) mulai memasuki tahap sampling untuk perangkat AI inference tahun depan.

Sandisk, salah satu produsen memori flash terbesar di dunia, memproyeksikan pendapatan akan tumbuh pada laju belasan persen per tahun sepanjang 2028 hingga 2030. Optimisme ini ditopang oleh gelombang pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan kapasitas penyimpanan data dalam jumlah besar.
Dalam acara Investor Day yang digelar Kamis lalu, manajemen Sandisk menyatakan pertumbuhan pendapatan tersebut sejalan dengan ekspansi kapasitas produksi yang diukur dari "bit growth" โ indikator industri untuk pertumbuhan jumlah kapasitas penyimpanan. Langkah ini merupakan upaya perusahaan untuk meyakinkan pasar bahwa momentum pertumbuhan yang terjadi saat ini bukan sekadar lonjakan permintaan sementara.
Kepala Keuangan Sandisk, Luis Visoso, mengungkapkan bahwa margin kotor yang disesuaikan diperkirakan tetap stabil di kisaran 80 persen selama periode yang sama. Angka ini mencerminkan efisiensi operasional yang tinggi di tengah investasi besar-besaran pada teknologi baru.
Untuk memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang, Sandisk telah menandatangani perjanjian pasokan dengan delapan pelanggan, termasuk tiga hyperscaler Amerika Serikat. Kesepakatan ini mencakup sekitar separuh dari total output penyimpanan perusahaan pada tahun fiskal 2027, dan meningkat menjadi dua pertiga pada tahun fiskal 2028. Model bisnis baru ini dirancang untuk memberikan visibilitas pendapatan yang lebih jelas bagi investor.
Di sisi inovasi, Chief Technology Officer Sandisk, Alper Ilkbahar, mengumumkan bahwa perusahaan telah menyelesaikan desain awal (tape out) untuk memory die pertama dari teknologi High Bandwidth Flash (HBF). Teknologi ini menggabungkan kecepatan memori bandwidth tinggi yang biasa digunakan pada prosesor AI dengan kapasitas memori flash, sehingga mampu menjawab kebutuhan data center akan memori berkapasitas besar untuk proses inferensi AI โ saat pengguna berinteraksi dengan chatbot atau sistem AI lainnya.
Sandisk menargetkan untuk mengirimkan sampel awal HBF kepada pelanggan yang sedang mengembangkan perangkat inferensi AI pada tahun depan. Inovasi ini menjadi kunci persaingan di pasar memori yang semakin ketat, terutama dengan hadirnya pemain-pemain besar seperti Samsung dan SK Hynix.
Kabar ini datang setelah Sandisk melaporkan hasil keuangan yang solid pekan lalu, dengan proyeksi pendapatan kuartal pertama yang melampaui estimasi analis. Saham Sandisk sendiri telah melonjak lebih dari enam kali lipat sepanjang tahun ini, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri memori di tengah ledakan AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara dengan ekosistem digital yang berkembang pesat, Indonesia akan terus bergantung pada pasokan chip memori global untuk berbagai perangkat, mulai dari smartphone hingga pusat data. Investasi besar-besaran di sektor AI global juga dapat mendorong penurunan biaya penyimpanan data dalam jangka panjang, yang pada akhirnya menguntungkan konsumen dan pelaku bisnis lokal.
Namun, ketergantungan pada rantai pasok global juga membawa risiko. Fluktuasi harga memori yang tajam, seperti yang pernah terjadi pada siklus sebelumnya, dapat mempengaruhi harga perangkat elektronik di pasar domestik. Oleh karena itu, diversifikasi sumber pasokan dan pengembangan industri semikonduktor nasional menjadi langkah strategis yang perlu dipertimbangkan pemerintah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pertumbuhan Sandisk ini akan berkelanjutan atau hanya bagian dari siklus industri yang naik-turun. Dengan komitmen pelanggan yang sudah terkunci hingga 2028, Sandisk tampaknya telah membangun fondasi yang kuat. Namun, dinamika geopolitik dan perubahan teknologi yang cepat tetap menjadi variabel yang perlu dicermati.



