Kepulangan Irak ke Piala Dunia: Antara Kebanggaan dan Kenyataan Pahit
Baca dalam 60 detik
- Irak gagal meraih poin di Grup I setelah kalah dari Prancis, Norwegia, dan Senegal, dengan kebobolan 12 gol.
- Pelatih Graham Arnold menekankan perlunya investasi infrastruktur dan akademi untuk bersaing di level tertinggi.
- Kembalinya Irak ke Piala Dunia setelah 40 tahun menjadi momentum evaluasi bagi pengembangan sepak bola negara tersebut.

Empat dekade penantian berakhir sudah, namun panggung Piala Dunia 2026 di Kanada justru menyajikan realitas pahit bagi Irak. Tim berjuluk Singa Mesopotamia itu harus pulang tanpa satu pun poin setelah takluk di tangan Prancis, Norwegia, dan Senegal—koleksi 12 gol bersarang di gawang mereka sepanjang turnamen.
Kekalahan terakhir 5-0 dari Senegal pada Jumat (26/6) menjadi puncak kesulitan. Kartu merah yang diterima pemain Irak pada menit awal membuat mereka bermain dengan 10 orang selama lebih dari 75 menit. Namun, menilai perjalanan Irak hanya dari angka-angka itu akan mengabaikan makna lebih besar: kembalinya mereka ke panggung sepak bola dunia setelah absen sejak 1986.
Pelatih Graham Arnold, yang baru setahun menangani Irak dan berhasil membawa mereka lolos, mengakui bahwa fondasi untuk kemajuan sudah ada, tetapi langkah selanjutnya membutuhkan investasi nyata, bukan sekadar inspirasi. "Irak punya suporter dan niat yang luar biasa. Yang diperlukan adalah bantuan sumber daya, fasilitas latihan, dan pembentukan akademi untuk meningkatkan kualitas pemain muda dan kompetisi klub," ujar pelatih asal Australia itu sebelum laga terakhir grup.
Penilaian Arnold mencerminkan kesenjangan yang terlihat jelas di lapangan. Para pemain Irak bertarung dengan disiplin dan semangat, tetapi berhadapan dengan lawan-lawan yang sebagian besar bermain di liga-liga top Eropa. Kualitas individu dan pengalaman di level tertinggi menjadi pembeda yang sulit dijembatani hanya dengan kerja keras.
Bagi gelandang Kevin Yakob, turnamen ini tetaplah pencapaian pribadi yang luar biasa. "Setahun lalu saya tidak tahu apakah masih bisa bermain sepak bola. Saya absen lebih dari dua tahun, dan mimpi ini yang membuat saya terus berjuang setiap hari," katanya. Kisah Yakob menjadi simbol perjuangan tim yang harus mengatasi berbagai keterbatasan.
Kembalinya Irak ke Piala Dunia juga membuka diskusi tentang masa depan sepak bola di negara yang pernah menjadi kekuatan Asia itu. Tanpa infrastruktur yang memadai dan kompetisi domestik yang kuat, sulit bagi Irak untuk bersaing secara konsisten di level global. Pelajaran dari turnamen ini harus diterjemahkan menjadi investasi jangka panjang, baik dalam pembinaan pemain muda maupun peningkatan kualitas liga.
Bagi Indonesia, kisah Irak menjadi cermin. Negeri seribu candi juga tengah berjuang untuk keluar dari keterpurukan sepak bola nasional. Keberhasilan Irak lolos ke Piala Dunia setelah 40 tahun menunjukkan bahwa perubahan bisa terjadi, tetapi membutuhkan perencanaan matang dan dukungan berkelanjutan. Pertanyaannya, apakah PSSI dan pemerintah Indonesia siap mengambil langkah serupa—atau akan terus terjebak dalam siklus harapan tanpa realisasi?



