Iran Tinggalkan Surat di Seattle: Terima Kasih dan Frustrasi Usai Imbang Lawan Mesir
Baca dalam 60 detik
- Iran menulis surat tangan di ruang ganti Seattle usai ditahan imbang 1-1 oleh Mesir, mengungkapkan rasa terima kasih sekaligus kekecewaan karena gol kemenangan dianulir VAR.
- Tim asuhan Amir Ghalenoei harus menunggu hasil laga lain untuk menentukan nasib lolos ke babak 32 besar, dengan tiga poin di Grup G.
- Pelatih dan kapten Iran mengecam pembatasan perjalanan yang diterapkan AS, mendesak FIFA untuk mencegah perlakuan serupa di Piala Dunia mendatang.

Iran meninggalkan pesan tertulis di ruang ganti Stadion Seattle usai bermain imbang 1-1 melawan Mesir dalam laga pamungkas Grup G Piala Dunia Wanita, Jumat (27/6). Surat itu berisi ucapan terima kasih atas sambutan hangat kota Seattle, namun juga menyiratkan kekecewaan mendalam karena kemenangan yang sudah di depan mata sirna setelah gol Shoja Khalilzadeh dianulir melalui tinjauan VAR.
Gol Khalilzadeh di masa injury time sempat membuat pendukung Iran bergemuruh. Namun, wasit menganulirnya setelah meninjau ulang posisi offside. Kekalahan hati itu membuat Iran harus menunggu hingga seluruh pertandingan fase grup berakhir pada Sabtu untuk mengetahui apakah mereka lolos sebagai salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik.
Dalam surat tulisan tangan yang dirilis Federasi Sepak Bola Iran, tim menulis, "Mungkin sebuah tim bisa lolos dari grup, tetapi hanya dengan keadilan dan kehormatan seseorang bisa berdiri tegak di hadapan sejarah. Fair play bukan sekadar baris dalam aturan sepak bola, itu adalah jiwa permainan." Surat itu juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Iran yang telah memberikan hati, suara, dan jiwa mereka untuk tim.
Pembatasan perjalanan yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap Iran menjadi sorotan tajam. Tim harus terbang dari Meksiko ke AS untuk setiap pertandingan, meskipun beberapa keringanan diberikan menjelang laga. Ketegangan politik antara kedua negara masih tinggi pasca konflik berkepanjangan. Pelatih Amir Ghalenoei dan kapten Mehdi Taremi dengan keras mengkritik kondisi tersebut. "Saya mendesak FIFA: jangan biarkan tuan rumah memperlakukan pemain dan tim seperti ini di Piala Dunia mendatang," ujar Ghalenoei.
Bagi Indonesia, kisah Iran ini menjadi pengingat betapa politik dapat merembet ke dunia olahraga. Meski Indonesia tidak berada dalam situasi konflik langsung dengan negara tuan rumah, pengalaman Iran menunjukkan bahwa pembatasan perjalanan dan ketegangan diplomatik bisa mempengaruhi performa tim. Regulasi FIFA yang melarang diskriminasi politik perlu ditegakkan agar kompetisi tetap murni. Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah FIFA akan mengambil langkah konkret untuk melindungi tim-tim yang menghadapi hambatan politik, atau membiarkan praktik seperti ini terus terjadi.



