Rekor Baru Hidrogen: JCB Hydromax Tembus 653 km/jam, Saingi Dominasi Baterai
Baca dalam 60 detik
- Mantan pilot tempur Inggris, Andy Green, memecahkan rekor kecepatan darat untuk kendaraan bertenaga hidrogen dengan JCB Hydromax di Gurun Garam Bonneville, AS.
- Rekor 653,9 km/jam ini hampir tiga kali lipat catatan sebelumnya dan menegaskan potensi mesin pembakaran hidrogen sebagai alternatif serius pengganti baterai.
- Keberhasilan ini menjadi panggung promosi JCB untuk ekspansi pabrik senilai Rp8 triliun di Texas, sekaligus sinyal bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mulai melirik teknologi hidrogen.

Mantan pilot tempur Inggris, Andy Green, kembali mencatatkan namanya dalam buku sejarah balap dengan memecahkan rekor kecepatan darat untuk kendaraan bertenaga hidrogen. Melalui mobil JCB Hydromax, ia melesat dengan kecepatan rata-rata 653,9 kilometer per jam di Gurun Garam Bonneville, Utah, Selasa lalu โ sebuah angka yang hampir tiga kali lipat dari rekor sebelumnya.
Pencapaian ini bukan sekadar angka. Hydromax ditenagai oleh dua mesin yang diambil dari alat berat produksi JCB, dimodifikasi untuk membakar hidrogen. Dengan kecepatan itu, kendaraan ini melampaui rekor hidrogen internal combustion yang dipegang BMW H2R sejak 2004 (185,5 mph) dan juga menembus batas kecepatan fuel cell yang sebelumnya 303 mph. FIA, badan otomotif internasional, masih akan meratifikasi catatan ini, tetapi torehan itu sudah cukup untuk menggemparkan industri.
Bagi Green, ini adalah babak baru dari karier panjangnya. Dua puluh enam tahun lalu, ia memegang rekor kecepatan darat absolut dengan Thrust SSC yang bertenaga jet (1.227 km/jam). Dua dekade lalu, ia juga memecahkan rekor diesel dengan JCB Dieselmax. Kini, dengan hidrogen, ia menegaskan bahwa teknologi pembakaran internal tidak mati โ justru bisa menjadi jembatan menuju era nol emisi.
JCB, perusahaan alat berat asal Inggris yang juga bermitra dengan tim Formula One Aston Martin, memulai proyek ini pada Juni 2025 bersama Prodrive, Ricardo, dan Xtrac. Mereka tidak hanya mengejar rekor, tetapi juga ingin membuktikan bahwa mesin hidrogen bisa diandalkan untuk produk komersial โ terutama ekskavator dan alat berat yang selama ini identik dengan emisi tinggi. Langkah ini sejalan dengan tren global menuju dekarbonisasi sektor konstruksi dan pertambangan.
Bagi Indonesia, kabar ini membuka diskusi menarik. Selama ini, wacana kendaraan ramah lingkungan di tanah air hampir selalu berpusat pada baterai listrik. Padahal, hidrogen memiliki keunggulan untuk kendaraan berat dan alat tambang yang beroperasi di area terpencil, di mana pengisian baterai sulit dilakukan. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mencanangkan peta jalan hidrogen, tetapi implementasinya masih jauh dari kata masif. Keberhasilan JCB bisa menjadi momentum untuk mempercepat uji coba teknologi serupa di sektor pertambangan batu bara atau nikel, yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Green sendiri menyebut Bonneville sebagai "rumah spiritual" rekor kecepatan, dan ia merasa terhormat bisa menorehkan sejarah baru dengan hidrogen. Namun, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah hidrogen bisa cepat, melainkan apakah teknologinya bisa murah dan praktis untuk diproduksi massal. JCB berencana membuka pabrik senilai US$500 juta di Texas untuk pasar Amerika โ sebuah sinyal bahwa mereka serius menjadikan hidrogen sebagai lini bisnis utama.
Dengan rekor ini, persaingan teknologi kendaraan bersih memasuki babak baru. Jika hidrogen mampu menyaingi baterai dalam hal biaya dan infrastruktur, bukan tidak mungkin peta jalan kendaraan listrik di berbagai negara, termasuk Indonesia, akan mengalami revisi besar. Pertanyaannya, apakah para pemangku kebijakan di Jakarta berani mengambil langkah berani serupa?



