Glave dan Azu Sabet Emas-Perak 100m Eropa, Jacobs Cedera di Birmingham
Baca dalam 60 detik
- Romell Glave mempersembahkan emas 100m Eropa bagi Inggris dengan catatan 10,09 detik, disusul Jeremiah Azu yang merebut perak.
- Juara bertahan dua kali, Lamont Marcell Jacobs, harus mengundurkan diri karena cedera di tengah lomba, membuka peluang bagi pelari lain.
- Dominasi Inggris di nomor sprint ini menegaskan regenerasi atletik Eropa dan bisa menjadi sinyal bagi persaingan global menuju Olimpiade 2028.

Romell Glave dan Jeremiah Azu menciptakan momen bersejarah bagi Inggris di Kejuaraan Atletik Eropa 2025 dengan merebut medali emas dan perak pada nomor lari 100 meter putra. Di hadapan publik sendiri di Alexander Stadium, Birmingham, Glave tampil dominan dengan catatan waktu 10,09 detik, sementara Azu menyusul di posisi kedua dengan 10,16 detik. Keberhasilan ini sekaligus mengubur asa juara bertahan dua kali, Lamont Marcell Jacobs dari Italia, yang harus menghentikan langkahnya karena cedera di tengah perlombaan.
Bagi Glave, kemenangan ini adalah puncak dari perjalanan panjangnya. Dua tahun lalu di Roma, ia hanya mampu membawa pulang perunggu. Kini, di usia 26 tahun, ia berhasil naik podium tertinggi untuk pertama kalinya di pentas internasional. Sementara itu, Azu, yang sudah mengukir nama sebagai juara dunia dan Eropa nomor 60 meter indoor pada 2025, menunjukkan konsistensinya dengan memperbaiki raihan perunggu pada 2022 menjadi perak kali ini. Penampilan keduanya menjadi bukti bahwa Inggris tengah berada di era keemasan sprint Eropa.
Di sisi lain, kegagalan Jacobs menjadi sorotan. Pelari yang pernah mengejutkan dunia dengan merebut emas Olimpiade Tokyo 2020 itu tampak kesakitan dan berhenti di tengah lintasan. Kondisi ini memicu pertanyaan tentang kesiapannya menghadapi kompetisi-kompetisi besar berikutnya, termasuk Olimpiade Los Angeles 2028. Analis olahraga menilai cedera yang dialaminya bisa menjadi pukulan telak bagi kariernya, mengingat usianya yang tak lagi muda dan persaingan yang semakin ketat.
Bagi Indonesia, prestasi Glave dan Azu bukan sekadar kabar olahraga internasional. Ini menjadi cermin bagaimana pembinaan atlet sprint yang sistematis dapat melahirkan generasi emas. Indonesia sendiri masih berjuang untuk menembus babak final nomor lari cepat di level Asia, apalagi dunia. Keberhasilan Inggris dengan program pelatihan terstruktur dan dukungan fasilitas modern bisa menjadi bahan pembelajaran bagi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) untuk mengevaluasi strategi pembinaan jangka panjang.
Selain itu, dominasi Inggris di nomor 100 meter putra Eropa kali ini juga menandai pergeseran peta kekuatan di kawasan. Italia yang sebelumnya perkasa melalui Jacobs kini harus mencari penerus. Jerman, melalui Owen Ansah yang finis ketiga, menunjukkan progres signifikan. Persaingan sprint Eropa diprediksi akan semakin sengit, dengan munculnya nama-nama baru yang siap merebut tahta.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Inggris mampu mempertahankan dominasi ini hingga Olimpiade 2028. Glave dan Azu masih berada di puncak performa, tetapi tantangan dari pelari muda Amerika Serikat dan Jamaika selalu mengintai. Bagi Jacobs, pemulihan cedera akan menjadi kunci untuk kembali bersaing. Sementara bagi Indonesia, momen ini seharusnya menjadi alarm untuk berbenah, agar suatu hari nanti nama pelari Tanah Air bisa disebut-sebut di pentas dunia.



