Rafael Jodar: Remaja Spanyol di Ambang Rekor Tercepat ke Top 10 ATP
Baca dalam 60 detik
- Petenis 19 tahun asal Spanyol, Rafael Jodar, hanya butuh 140 hari untuk menembus jajaran 10 besar dunia jika menang di Kanada Terbuka.
- Laju karier Jodar melampaui pencapaian para legenda seperti Alcaraz, Djokovic, dan Nadal di usia yang sama.
- Dengan absennya Sinner dan Alcaraz karena cedera, Jodar berpotensi menjadi pesaing serius di turnamen besar berikutnya.

Rafael Jodar, petenis muda asal Spanyol, berdiri di ambang sejarah. Jika ia mampu menaklukkan Brandon Nakashima di semifinal Kanada Terbuka di Montreal, namanya akan mengukir rekor baru sebagai pemain dengan laju tercepat menembus jajaran 10 besar ATP—hanya dalam 140 hari sejak pertama kali masuk 100 besar.
Kemenangan meyakinkan atas Arthur Fils dengan skor 7-6 (7-5), 6-3 pada perempat final mengantarkan Jodar ke posisi 11 dalam peringkat live ATP. Namun, ada satu syarat: ia harus memenangkan turnamen jika Ben Shelton juga melaju ke final. Jika tidak, peluang tetap terbuka lebar melalui performa gemilang di Masters 1000 Cincinnati atau AS Terbuka bulan depan.
Rekor sebelumnya dipegang Boris Becker yang mencatatkan 210 hari pada 1985. Jodar, yang baru berusia 19 tahun, berpeluang memecahkannya dengan selisih 70 hari. Perbandingan dengan generasi emas tenis pria modern menunjukkan betapa luar biasanya pencapaiannya: Carlos Alcaraz butuh 336 hari, Novak Djokovic 623 hari, sementara Rafael Nadal dan Jannik Sinner masing-masing 735 hari. Roger Federer bahkan memerlukan 973 hari.
Kebangkitan Jodar bukan sekadar angka. Ia menjadi remaja pertama sejak Stefanos Tsitsipas pada 2018 yang menembus semifinal Masters 1000, dan pemain kelahiran 2006 atau setelahnya yang mencapai babak tersebut. Gelar perdananya diraih di Grand Prix Hassan II, Marrakech, di atas tanah liat—sebuah sinyal bahwa ia nyaman di berbagai permukaan.
Perjalanan Jodar dimulai pada awal 2026 ketika ia memutuskan menjadi profesional penuh. Debutnya di Australia Terbuka langsung memberinya kemenangan Grand Slam pertama. Pada 30 Maret, ia masuk 100 besar setelah mencapai putaran ketiga Miami Open. Sebulan kemudian, ia sudah berada di 50 besar setelah mengalahkan Alex de Minaur di Madrid. Dua perempat final beruntun di Roma dan Madrid menjadikannya remaja pertama sejak Nadal 21 tahun lalu yang melakukannya. Puncaknya, ia melaju hingga perempat final Roland Garros sebelum dihentikan Alexander Zverev, dan mencapai putaran ketiga Wimbledon.
Gaya bermain Jodar mengingatkan pada Nadal—idolanya—dengan pukulan berat, topspin tinggi, dan agresivitas dari baseline. Tinggi 6 kaki 3 inci memberinya keunggulan servis yang lebih cepat dari rata-rata tur. Namun, pendekatannya lebih mirip dengan Sinner: pukulan keras tanpa henti, bukan variasi ala Alcaraz. Ia tidak segan mengambil risiko pada poin-poin penting, sebuah karakter yang bisa menjadi senjata sekaligus kelemahan.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kebangkitan Jodar menambah warna persaingan di papan atas yang selama ini didominasi Eropa dan Amerika. Dengan Sinner dan Alcaraz yang tengah cedera, peluang Jodar untuk tampil menonjol di AS Terbuka semakin terbuka. Para bandar bahkan telah menempatkannya di delapan besar kandidat juara. Pertanyaannya, apakah ia mampu menjaga konsistensi saat tekanan turnamen Grand Slam meningkat? Atau akankah pengalaman menjadi pembeda? Satu hal yang pasti: dunia tenis sedang menyaksikan kelahiran bintang baru yang siap mengguncang hierarki.



