Pink Dot 2026: Ribuan Warga Singapura Padati Hong Lim Park, Serukan Kesetaraan Tanpa Diskriminasi
Baca dalam 60 detik
- Pink Dot ke-18 di Singapura dihadiri ribuan peserta dari berbagai kalangan, menandai tahun keempat sejak pencabutan Pasal 377A yang mengkriminalisasi hubungan sesama jenis.
- Acara tahun ini mengusung tema 'Come Get Personal' untuk mendorong dialog antarkomunitas, dengan lebih dari 20 kelompok LGBTQ+ menyediakan booth dan aktivitas interaktif.
- Sejumlah anggota parlemen hadir, namun tantangan perubahan pola pikir masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah utama pasca-repeal.

Ribuan warga Singapura tetap memadati Hong Lim Park pada Sabtu (27 Juni) meskipun cuaca panas menyengat, merayakan edisi ke-18 acara tahunan Pink Dot yang memperjuangkan kesetaraan hak komunitas LGBTQ+. Ini adalah tahun keempat sejak pencabutan Pasal 377A, undang-undang kolonial yang selama puluhan tahun mengkriminalisasi hubungan seks sesama jenis.
Para pendukung dari berbagai usia tampil dengan busana bernuansa merah muda, membawa payung, kipas, dan bendera pelangi. Mereka berbaur di antara puluhan booth yang dikelola kelompok komunitas, mengikuti sesi bercerita, dan berdialog dengan pengunjung lain. Tema tahun ini, "Come Get Personal", sengaja dirancang untuk mendorong peserta mendengar kisah pribadi, bertemu wajah baru, dan terhubung dengan pengalaman di luar keseharian mereka.
Juru bicara Pink Dot, Andee Tay, menegaskan bahwa acara ini ingin mengingatkan publik bahwa di balik isu dan perdebatan seputar LGBTQ+ ada pengalaman hidup nyata. "Banyak warga Singapura mungkin belum pernah bertemu dengan queer, tidak memahami realitas yang mereka jalani. Kami ingin menciptakan kesempatan bagi orang untuk datang dan mengenal secara personal komunitas queer di Singapura," ujarnya. Tay menambahkan bahwa gerakan ini tidak hanya berfokus pada kesetaraan hukum, tetapi juga pada isu-isu keseharian seperti kesehatan mental, dukungan keluarga, dan inklusi di tempat kerja.
Sejumlah anggota parlemen turut hadir, termasuk Darryl David dari Partai Aksi Rakyat (PAP) yang mewakili Ang Mo Kio GRC. David mengapresiasi keragaman pendekatan para peserta, mulai dari dukungan kesehatan mental untuk pelajar hingga lansia. "Komunitas LGBTQ+ tidak homogen, sangat beragam. Saya melihat dukungan luar biasa, baik dari dalam maupun luar komunitas. Ini menggembirakan," katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa pencabutan pasal saja tidak cukup. "Jika pola pikir tidak berubah, repeal tidak berarti apa-apa." Sementara itu, tiga anggota parlemen dari Partai Pekerja β Louis Chua, He Ting Ru, dan Jamus Lim β juga hadir namun menolak berkomentar kepada media.
Bagi peserta, Pink Dot bukan sekadar pesta tahunan. Lynn, yang telah hadir sejak 2009, menyebut acara ini sebagai "ruang nyaman" untuk merayakan identitas. Namun, ia menekankan bahwa inklusivitas harus melampaui acara setahun sekali dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Cherry Cheng, yang datang pertama kali bersama dua putrinya, ingin mengajarkan bahwa "cinta adalah cinta" tanpa memandang gender. Sementara itu, Chong Jia Yi yang hadir bersama pasangan dan bayi kembarnya yang berusia 11 bulan merasa lega bisa tampil sebagai keluarga dengan dua ibu tanpa mendapat tatapan aneh. "Kami berharap kehadiran kami memberi harapan bagi queer muda," ujarnya.
R Radah, anggota kelompok pendukung SAFE yang mewadahi orang tua dan keluarga LGBTQ+, menekankan peran krusial orang tua. "Penerimaan orang tua mengurangi risiko depresi, kecemasan, dan bunuh diri, serta membangun harga diri anak. Kami ingin mengingatkan bahwa cinta tanpa syarat membangun keamanan emosional dan mengatasi prasangka," katanya. Acara ini juga menghadirkan mantan anggota parlemen Tan Yia Swam yang berbagi bagaimana pengalaman dengan LGBTQ+ mengubah pandangannya sebagai dokter dan ibu, serta penyanyi Thaarmin yang bercerita tentang suka duka tumbuh sebagai queer Tamil di Singapura.
Dengan format yang lebih intim β menjauh dari panggung besar menuju pertunjukan kecil, percakapan, dan aktivasi komunitas β Pink Dot 2026 menegaskan bahwa komunitas LGBTQ+ bukanlah isu tunggal. "Kelompok yang berbeda menghadapi tantangan dan prioritas yang berbeda," kata Andee Tay. Pertanyaan besarnya kini: akankah semangat inklusi ini mampu mengubah kebijakan dan kehidupan sehari-hari di luar taman, atau tetap menjadi perayaan tahunan yang terisolasi?



