Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas, 2 Hektare Lahan Terbakar dan Pasokan Air Terbatas
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, telah menghanguskan lebih dari dua hektare lahan sejak Selasa siang.
- Proses pemadaman terkendala minimnya pasokan air, sehingga petugas harus menghentikan sementara upaya di beberapa titik.
- Cuaca panas dan angin kencang diduga menjadi pemicu utama cepatnya penyebaran api di area gunungan sampah.

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga Selasa (30/6) malam belum berhasil dipadamkan. Api telah membakar lebih dari dua hektare lahan yang dipenuhi tumpukan sampah, mengancam lingkungan sekitar dan memicu kekhawatiran warga.
Kobaran api mulai terlihat sejak pukul 11.00 WIB di bagian selatan gunungan sampah. Hingga malam hari, api masih menyala disertai kepulan asap putih dan hitam yang membumbung tinggi. Petugas pemadam kebakaran dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang dikerahkan ke lokasi, namun upaya pemadaman terkendala keterbatasan pasokan air. Akibatnya, proses pemadaman di beberapa titik harus dihentikan sementara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, memperkirakan luas area yang terbakar mencapai lebih dari dua hektare. โKalau ditotal mungkin bisa lebih dari dua hektaran,โ ujarnya di lokasi. Sebanyak sembilan unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan untuk menjinakkan api, dengan personel disebar ke beberapa titik guna mencegah api merambat ke area lain.
Menurut Ujat, dugaan sementara penyebab kebakaran adalah cuaca panas yang diperparah embusan angin kencang. โDugaan saya seperti itu. Dari cuaca panas, kemudian awalnya di belakang sana, lalu angin yang besar membuat penyebarannya menjadi cepat,โ katanya. Kondisi ini membuat api sulit dilokalisasi dan berpotensi meluas ke bagian lain TPA.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin menjadi pengingat akan kerentanan tempat pembuangan sampah di Indonesia terhadap bencana, terutama saat musim kemarau. Minimnya infrastruktur pengelolaan sampah dan sistem pencegahan kebakaran yang memadai kerap menjadi faktor penghambat penanganan. Kejadian serupa sebelumnya juga terjadi di berbagai TPA di tanah air, seperti TPA Bantar Gebang dan TPA Piyungan, yang menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan bagi warga sekitar.
Hingga berita ini diturunkan, petugas masih berjibaku melokalisasi api agar tidak meluas. Pertanyaan yang mengemuka: apakah pemerintah daerah akan segera mengevaluasi sistem pengelolaan sampah dan kesiapsiagaan bencana di TPA untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang?



