Tumpukan Sampah di Cakung Ganggu Aktivitas Warga, Petugas Dikerahkan
Baca dalam 60 detik
- Timbunan sampah rumah tangga di Gang Swadaya, Cakung, Jakarta Timur, menutup akses jalan dan mengganggu warga sekitar Rusun Albo.
- Petugas kebersihan dikerahkan untuk membersihkan tumpukan yang menimbulkan bau menyengat dan menghambat mobilitas.
- Peristiwa ini menyoroti lemahnya pengelolaan sampah di permukiman padat Jakarta, terutama di area sekitar rumah susun.

Petugas kebersihan dikerahkan untuk membersihkan tumpukan sampah rumah tangga yang menutupi sebagian akses Jalan Gang Swadaya, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Selasa (30/6/2026). Kondisi ini memicu keluhan warga karena bau menyengat dan menghambat aktivitas sehari-hari, terutama bagi penghuni Rusun Albo di sekitar lokasi.
Timbunan sampah yang berasal dari permukiman padat tersebut menimbun badan jalan hingga menyisakan celah sempit bagi kendaraan roda dua. Warga setempat mengaku sudah berulang kali melaporkan masalah ini, namun penanganan kerap terlambat. โSetiap kali hujan, sampah makin membusuk dan lalat beterbangan,โ ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.
Pembersihan dilakukan oleh petugas dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur dengan menggunakan alat berat dan truk pengangkut. Namun, volume sampah yang menumpuk diperkirakan mencapai puluhan meter kubik, sehingga proses pengangkutan diperkirakan memakan waktu beberapa hari. Belum ada pernyataan resmi dari pihak kelurahan mengenai penyebab keterlambatan penjemputan rutin.
Kejadian di Cakung ini bukanlah kasus pertama. Wilayah Jakarta Timur, khususnya kawasan padat seperti Cakung, kerap menghadapi masalah serupa akibat terbatasnya tempat pembuangan sementara (TPS) dan rendahnya kesadaran warga dalam membuang sampah tepat waktu. Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mencatat, volume sampah rumah tangga di Jakarta mencapai 7.500 ton per hari, dengan sebagian besar berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menilai bahwa penumpukan sampah di gang-gang sempit seperti di Cakung mencerminkan kegagalan sistem pengelolaan sampah di tingkat RW. โSampah rumah tangga seharusnya diangkut setiap hari, tapi seringkali jadwal tidak konsisten karena keterbatasan armada,โ katanya. Ia mendorong pemerintah untuk memperbanyak TPS modular di titik-titik rawan dan mengaktifkan bank sampah berbasis komunitas.
Di sisi lain, warga berharap ada solusi jangka panjang, bukan sekadar pembersihan insidental. โKami ingin tempat sampah yang memadai dan penjemputan rutin, bukan hanya saat ada liputan media,โ ujar seorang penghuni Rusun Albo. Pemerintah Kota Jakarta Timur sendiri belum mengumumkan langkah preventif untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Ke depan, masalah sampah di permukiman padat seperti Cakung membutuhkan kolaborasi antara dinas kebersihan, kelurahan, dan warga. Apakah insiden ini akan mendorong perbaikan sistem pengangkutan sampah di Jakarta Timur, atau hanya menjadi catatan kaki yang terlupakan?



