Serangan Houthi Tewaskan Empat Awak Kapal, Termasuk Satu WNI: Eskalasi Baru di Laut Merah
Baca dalam 60 detik
- Empat pelaut tewas dalam serangan Houthi di Selat Bab el-Mandeb, menandai korban jiwa pertama sejak perang Iran dimulai.
- Kapal lain diserang rudal di Teluk Oman, diduga oleh militer AS yang memperketat blokade terhadap pelayaran terkait Iran.
- Insiden ini memperdalam gangguan jalur laut global, dengan lalu lintas di Selat Hormuz anjlok drastis dan berdampak pada ekonomi Indonesia.

Serangan bersenjata di perairan Timur Tengah kembali memakan korban jiwa. Kementerian Perhubungan Yaman mengonfirmasi bahwa empat awak kapal kargo Tihamah tewas dalam serangan yang didalangi kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb pada Selasa (11/8). Di antara korban terdapat satu warga negara Indonesia (WNI), bersama tiga warga Pakistan. Jika terverifikasi, ini menjadi korban jiwa pertama dalam gelombang serangan Houthi terhadap pelayaran sejak perang Iran meletus pada 28 Februari lalu.
Kapal berbendera Mesir itu diserang saat berlabuh di timur laut Pulau Perim, Yaman. Menurut laporan UKMTO, badan keamanan maritim Inggris, kapal terkena proyektil tak dikenal. Awak kehilangan kendali atas kapal setelah serangan, dan tiga personel penjaga pantai Yaman juga terluka akibat serangan drone saat berupaya mengevakuasi kru. Houthi sendiri belum mengklaim serangan ini, namun kelompok itu telah mendeklarasikan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli lalu dengan dalih blokade Saudi—klaim yang dibantah Riyadh.
Di sisi lain, insiden terpisah terjadi di Teluk Oman. Kapal peti kemas berbendera Panama, Vela Nova, dilaporkan terkena rudal saat berlayar menuju Teluk Oman, sekitar 71 mil laut dari pantai Pakistan. The Wall Street Journal menyebut serangan itu dilancarkan helikopter AS yang menembakkan rudal Hellfire ke kemudi kapal setelah kapal mencoba menghindari blokade AS terhadap pelayaran terkait Iran. Jika dikonfirmasi, ini adalah kapal ke-12 yang diserang pasukan AS sejak blokade diumumkan pada April, dan yang ketiga sejak blokade diberlakukan kembali pada 14 Juli.
Charlie Brown, penasihat senior kelompok advokasi United Against Nuclear Iran (UANI), menggarisbawahi bahwa serangan terhadap Vela Nova terjadi setelah kapal itu singgah di Mumbai dan Port Klang, Malaysia—pelabuhan yang kerap disinggahi kapal terkait Iran. “Tindakan AS yang melumpuhkan dan menghentikan Vela Nova di dekat garis blokade menunjukkan pengawasan yang semakin ketat terhadap pelayaran Iran,” ujarnya. Data pelacakan kapal menunjukkan peningkatan patroli AS di kawasan itu.
Dampak pada jalur pelayaran global sangat nyata. Data Kpler menunjukkan rata-rata 32 kapal melintasi Bab el-Mandeb pekan lalu, turun dari 50 sebelum blokade Houthi. Sementara di Selat Hormuz, hanya enam kapal yang melintas pada Senin, anjlok dibanding rata-rata 11 dalam 10 hari terakhir dan 130-140 sebelum konflik. Gangguan ini memicu kekhawatiran akan lonjakan biaya logistik dan harga energi, yang berpotensi menekan ekonomi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, insiden ini bukan sekadar kabar duka. Dengan satu WNI menjadi korban, pemerintah perlu memastikan perlindungan bagi pelaut Indonesia yang kerap bekerja di kapal asing di perairan berisiko tinggi. Lebih jauh, ketidakstabilan di Laut Merah dan Teluk Oman dapat mengganggu rantai pasok komoditas dan energi yang melewati jalur tersebut, berimbas pada harga barang di dalam negeri. Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan Kementerian Luar Negeri diharapkan segera mengambil langkah evakuasi dan klarifikasi.
Ke depan, eskalasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah blokade AS dan embargo Houthi akan memicu konfrontasi yang lebih luas? Dengan kedua belah pihak menunjukkan kekuatan, risiko serangan balasan dan korban sipil semakin tinggi. Dunia, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi skenario terburuk berupa gangguan berkepanjangan pada jalur perdagangan global yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi.



