Coco Gauff Akui Belum Nyaman di Rumput Jelang Wimbledon 2025
Baca dalam 60 detik
- Petenis peringkat tujuh dunia Coco Gauff mengakui kepercayaan dirinya di lapangan rumput masih rendah jelang Wimbledon 2025.
- Wimbledon menjadi satu-satunya turnamen Grand Slam di mana Gauff belum pernah melaju melewati babak keempat dalam enam penampilan.
- Gauff juga menyuarakan kekecewaan terhadap kenaikan hadiah Wimbledon yang dinilai belum cukup untuk pemain di peringkat bawah.

Coco Gauff, petenis putri peringkat tujuh dunia, mengakui bahwa hubungannya dengan lapangan rumput masih jauh dari ideal menjelang turnamen Wimbledon yang akan dimulai pekan depan. Dalam konferensi pers pada Sabtu (27/6), Gauff menyebut kepercayaan diri sebagai faktor utama yang menghambat performanya di permukaan yang tidak alami baginya.
Petenis berusia 22 tahun yang telah mengoleksi dua gelar Grand Slam ini belum pernah melaju melewati babak keempat di All England Club dalam enam partisipasi sebelumnya. Wimbledon menjadi satu-satunya turnamen mayor yang belum memberinya hasil gemilang. Musim lalu, ia tersingkir secara mengejutkan di putaran pertama oleh Dayana Yastremska dari Ukraina. Bulan ini, ia juga gagal di Berlin Open setelah dikalahkan Paula Badosa pada babak 16 besar.
โKami tidak memiliki hubungan yang baik,โ kata Gauff tentang lapangan rumput. โSaya selalu punya kenangan indah di rumput, dan saya yakin punya kemampuan untuk bermain di atasnya. Tapi ini lebih soal kepercayaan diri.โ Ia menambahkan bahwa undian di Wimbledon kerap tidak menguntungkan, dengan potensi bertemu unggulan keempat Jessica Pegula dan petenis nomor satu Aryna Sabalenka di babak lanjutan. โSaya masih belajar bermain di permukaan ini. Ini bukan permukaan alami bagi saya, tapi kami akan membuatnya alami.โ
Di luar persoalan teknis, Gauff juga angkat bicara mengenai kenaikan hadiah uang Wimbledon yang mencapai rekor 20 persen. Meski mengapresiasi langkah tersebut, ia menilai nominalnya masih di bawah harapan para pemain. โBanyak pemain di peringkat 100 atau 200 dunia yang sangat bagus, tetapi tidak mendapat dukungan memadai, terutama saat pulih dari cedera. Kami ingin turnamen besar berpartisipasi dalam program kesejahteraan untuk meningkatkan kualitas olahraga secara keseluruhan,โ ujarnya.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, perjuangan Gauff menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap permukaan lapangan merupakan tantangan universal. Petenis Indonesia seperti Aldila Sutjiadi dan Christopher Rungkat juga kerap menghadapi kesulitan serupa saat bertanding di turnamen internasional dengan variasi lapangan yang berbeda. Fenomena ini menyoroti pentingnya program latihan khusus dan dukungan finansial bagi petenis dari negara berkembang untuk bersaing di level tertinggi.
Gauff akan memulai perjuangannya di Wimbledon pada hari pertama turnamen, Senin (29/6), dengan menghadapi Tamara Korpatsch yang berada di peringkat 79 dunia. Bisakah ia akhirnya memecahkan kutukan rumput dan melaju lebih jauh? Ataukah undian berat dan kurangnya kepercayaan diri akan kembali menghadang langkahnya?



