Serena Williams Kembali ke Wimbledon: Bukan Sekadar Nostalgia
Baca dalam 60 detik
- Serena Williams akan memulai petualangan tunggal perdananya di Wimbledon setelah 1.396 hari absen, menghadapi petenis 24 tahun lebih muda.
- Di usia 44 tahun, Williams mengaku transisi kembali ke tenis terasa mudah, namun tantangan fisik dan stamina menjadi sorotan utama.
- Kembalinya Williams tidak hanya menghidupkan nostalgia, tetapi juga menguji batas usia dalam olahraga profesional yang semakin kompetitif.

Serena Williams akhirnya kembali ke lapangan rumput Wimbledon setelah absen lebih dari tiga tahun, dan ia mengaku segalanya terasa berbeda namun juga akrab. Petenis Amerika berusia 44 tahun itu akan menghadapi Maya Joint, lawan yang 24 tahun lebih muda, pada laga babak pertama tunggal putri, Selasa (2/7) di Centre Court. Ini adalah penampilan perdana Williams di nomor tunggal sejak kekalahan dari Harmony Tan pada 2021โtepatnya 1.396 hari yang lalu.
Sejak pensiun sementara, hidup Williams berubah drastis. Ia melahirkan anak kedua, ikut mendirikan klub sepak bola wanita NWSL, dan bahkan menari di Super Bowl. Namun, panggilan tenis tetap kuat. "Transisi kembali terasa sangat mudah. Saya kembali ke rumah yang saya tinggali selama bertahun-tahun," ujarnya dalam wawancara dengan Clare Balding untuk BBC. "Tidak ada yang terlalu baru, tapi sekaligus semuanya baru. Perubahan itu baik."
Williams mengaku tidak menyangka akan kembali berlaga di Wimbledon. Ia menerima wildcard dengan pertimbangan matang. "Saya pikir, 'Ada apa denganmu, Serena? Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu gila?' Tapi saya punya kesempatan besar ini untuk menunjukkan yang terbaik," katanya. Bagi Williams, kesuksesan saat ini bukan sekadar kemenangan, melainkan bisa tampil di lapangan dan menikmati permainan.
Kembalinya Williams memicu diskusi tentang daya tahan fisik di usia senja. Maria Sakkari, petenis Yunani yang sempat berlatih dengannya, menilai pukulan Williams masih "bersih" seperti dulu. "Saya yakin dia bisa memenangkan pertandingan, terutama di rumput. Tantangan terbesarnya adalah seberapa kuat dia bertahan dalam durasi panjang," ujar Sakkari. Novak Djokovic, sahabat sekaligus rival, mengaku melihat Williams berlatih lebih keras di gym dibanding saat puncak kariernya. "Dia benar-benar menginginkan ini berhasil. Usahanya patut dikagumi," kata juara 24 grand slam itu.
Namun, usia bukan satu-satunya hambatan. Lawan pertama Williams, Maya Joint, adalah petenis muda berbakat yang tidak akan gentar. David Quayle, mitra latih Williams, mengatakan aura sang legenda masih terasa. "Kadang sulit untuk tidak merasa gugup di dekatnya. Anda menyaksikan servisnya di TV bertahun-tahun, lalu tiba-tiba servis itu meluncur ke arah Anda," katanya. Marta Kostyuk, unggulan ke-12 asal Ukraina, mengaku grogi saat pertama kali berlatih dengan Williams. "Dia masih punya servis luar biasa. Saya sangat antusias melihatnya bermain," ujarnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kembalinya Williams memberikan tontonan kelas dunia sekaligus pelajaran tentang ketahanan. Di tengah minimnya wakil Asia di turnamen grand slam, performa Williams bisa menjadi inspirasi bagi petenis Tanah Air yang masih berjuang menembus level elite. Pertanyaannya, mampukah Williams melampaui ekspektasi dan membuktikan bahwa usia hanyalah angka? Atau justru lawan-lawannya yang lebih muda akan memanfaatkan kelemahan fisiknya? Laga perdana nanti akan menjadi jawaban pertama.



