Wimbledon 2025: Tiga Petenis Inggris Lolos, 13 Tersingkir di Babak Pertama
Baca dalam 60 detik
- Katie Swan, Jacob Fearnley, dan Arthur Fery menjadi satu-satunya wakil Inggris yang melaju ke babak kedua Wimbledon 2025 setelah 13 petenis tuan rumah lainnya tersingkir di ronde pembuka.
- Kegagalan massal ini menyamai rekor tahun lalu dan menjadi yang terburuk sejak 1994, memicu pertanyaan tentang kedalaman skuad Inggris di turnamen Grand Slam.
- Swan, yang nyaris pensiun karena cedera punggung, mencatat kemenangan pertamanya di main draw Grand Slam sejak 2018, memberikan secercah harapan di tengah dominasi kegagalan petenis tuan rumah.

Wimbledon 2025 mencatatkan salah satu awal terburuk bagi petenis tuan rumah dalam sejarah turnamen: tiga petenis Inggris berhasil melaju ke babak kedua, namun 13 lainnya harus angkat koper setelah tumbang di ronde pertamaโmenyamai rekor terburuk tahun lalu dan menjadi yang terbanyak sejak 1994.
Katie Swan, Jacob Fearnley, dan Arthur Fery menjadi tiga nama yang selamat dari 'pembantaian' di hari pertama dan kedua. Swan, yang sempat mempertimbangkan pensiun pada 2024 akibat cedera punggung kronis, tampil gemilang dengan kemenangan 6-4, 6-4 atas Irina-Camelia Begu dari Rumania. Ini adalah kemenangan pertamanya di babak utama Grand Slam sejak ia mengalahkan lawan yang sama di Wimbledon 2018. Swan, yang memenangkan 88% poin dari servis pertamanya, tidak menghadapi break point hingga ia melakukan servis untuk kemenangan, dan akhirnya menutup pertandingan pada match point kelima.
Sementara itu, Fearnley, yang berada di peringkat 159 dunia, menunjukkan mental baja dengan bangkit dari ketertinggalan dua set untuk mengalahkan Alex Michelsen dari Amerika Serikat 3-6, 4-6, 6-2, 6-3, 6-2 dalam waktu tiga setengah jam. Fery juga harus berjuang keras setelah kehilangan set pertama, namun ia hanya kehilangan lima game dari 23 game terakhir untuk menaklukkan Damir Dzumhur dari Bosnia 3-6, 6-2, 6-2, 6-1.
Di sisi lain, kegagalan demi kegagalan mewarnai perjalanan petenis tuan rumah. Cameron Norrie, petenis Inggris dengan peringkat tertinggi, termasuk dalam 10 petenis yang tersingkir di hari pertama. Jack Draper mengundurkan diri 24 jam sebelum pertandingan karena cedera, menyusul Emma Raducanu yang mundur pada malam sebelum turnamen akibat stres fraktur di kaki kanannya. Katie Boulter, yang baru saja mencatat kemenangan terbesar dalam kariernya dengan mengalahkan petenis nomor dua dunia Elena Rybakina di Queen's 18 hari sebelumnya, justru tumbang di tangan remaja Italia Tyra Caterina Grant (18 tahun) yang debut di Grand Slam. Boulter tidak mampu menciptakan satu pun break point sepanjang pertandingan.
Kegagalan massal ini memicu perdebatan tentang sistem pembinaan petenis Inggris. Meskipun memiliki beberapa pemain papan atas seperti Emma Raducanu dan Jack Draper, kedalaman skuad masih menjadi masalah. Dari 13 petenis yang tersingkir, beberapa di antaranya adalah debutan atau pemain yang jarang tampil di lapangan rumput. Harry Wendelken, yang berada di peringkat 202 dunia, sempat memenangkan set pertama melawan Valentin Royer (peringkat 75) sebelum akhirnya kalah. Jack Pinnington Jones juga kalah dari Brandon Nakashima setelah tertinggal di set ketiga.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan olahraga tenis, kegagalan Inggris ini menjadi pelajaran berharga. Turnamen Grand Slam seperti Wimbledon menuntut konsistensi dan ketahanan fisik yang tinggi, terutama di permukaan rumput yang cepat dan licin. Petenis Indonesia yang bercita-cita menembus turnamen besar perlu mempersiapkan diri dengan matang, termasuk pengalaman bertanding di lapangan rumput yang minim di Asia Tenggara.
Ke depan, Swan akan menghadapi pemenang antara Madison Keys (juara Australian Open 2025) atau Kayla Day. Fearnley dan Fery juga akan menghadapi lawan-lawan tangguh di babak kedua. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka menjadi kuda hitam dan memperpanjang kiprah Inggris di turnamen ini, atau akankah rekor buruk terus berlanjut?



