Salah Ditarik Lebih Awal, Mesir Buktikan Ketajaman Tanpa Sang Bintang
Baca dalam 60 detik
- Mohamed Salah ditarik keluar pada menit ke-57 saat Mesir ditahan imbang Iran 1-1, namun tim tetap lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya.
- Pelatih Hossam Hassan telah membangun skema permainan yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Salah, dengan lini tengah dan sayap lain mulai produktif mencetak gol.
- Australia, calon lawan di babak gugur, harus mewaspadai kedalaman skuad Mesir yang mampu tampil impresif meski sang kapten dalam performa di bawah standar.

Mohamed Salah mungkin menjadi pusat perhatian setiap kali Timnas Mesir bertanding, tetapi laga melawan Iran di Seattle, Jumat (26/6) lalu membuktikan bahwa skuad asuhan Hossam Hassan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sang bintang. Dalam pertandingan Grup G yang berakhir imbang 1-1, Salah harus ditarik keluar pada menit ke-57 setelah meminta diganti. Meski demikian, Mesir tetap melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026โsebuah pencapaian yang belum pernah mereka raih sebelumnya.
Pelatih Hossam Hassan, yang mengambil alih kursi kepelatihan pada 2024, perlahan mengubah wajah permainan Mesir. Sebelumnya, di Piala Dunia 2018, Salah mencetak dua dari dua gol Mesir dan tim tersingkir di fase grup. Kini, dengan pendekatan yang lebih kolektif, Mesir mampu memanfaatkan gravitasi Salah untuk membuka ruang bagi pemain lain. Gelandang Emam Ashour mencetak gol penyama saat melawan Belgia, sementara Mahmoud Hassan โTrezeguetโ dan Mostafa Abdel Raouf โZicoโ ikut menyumbang gol saat menekuk Selandia Baru 3-1.
Melawan Iran, justru gelandang Mahmoud Saber yang menjadi pahlawan cepat dengan gol pada menit kelima. Mesir sebenarnya berpeluang memuncaki grup, tetapi Belgia yang menghajar Selandia Baru 5-1 membuat selisih gol menjadi penentu. Kini, Mesir akan menghadapi Australia di Dallas pada 3 Juli. Bahkan jika Salah belum pulih seratus persen, lini serang Mesir tetap mengancam.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana sebuah tim bisa bertransformasi dari ketergantungan pada satu pemain bintang menjadi permainan kolektif. Timnas Indonesia, yang juga memiliki figur sentral seperti pemain naturalisasi, bisa mengambil pelajaran dari pendekatan Hassan. โKami tidak ingin hanya mengandalkan Salah. Semua pemain harus siap berkontribusi,โ ujar Hassan dalam konferensi pers pasca-pertandingan.
Australia sendiri bukan lawan mudah. Namun, dengan kedalaman skuad yang mulai terbukti, Mesir memiliki modal berharga. Pertanyaan besarnya: mampukah Mesir mempertahankan performa ini tanpa Salah di puncak kebugarannya? Atau justru ini menjadi momentum bagi pemain lain untuk bersinar?



