Iran Gugat Perlakuan AS di Piala Dunia: Pelatih Minta FIFA Turun Tangan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengecam perlakuan Amerika Serikat yang dinilai tidak adil terhadap timnya selama Piala Dunia 2026.
- Pembatasan visa dan perpindahan markas latihan dari Arizona ke Tijuana menjadi sumber utama keluhan, dengan kapten tim menyebutnya sebagai 'bencana logistik'.
- Ghalenoei mendesak FIFA untuk mencegah perlakuan serupa di turnamen mendatang, sementara Iran masih berjuang lolos ke fase gugur.

Pelatih tim nasional Iran, Amir Ghalenoei, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat selaku tuan rumah bersama Piala Dunia 2026. Ia menilai negaranya diperlakukan secara tidak adil selama turnamen berlangsung dan mendesak Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk mengambil langkah preventif di masa depan.
Sejak sebelum turnamen dimulai, Iran menghadapi serangkaian hambatan administratif yang tidak lazim. Rencana awal untuk menjadikan Arizona sebagai basis latihan harus dibatalkan. Sebagai gantinya, skuad Iran terpaksa menetap di Tijuana, Meksiko, dan hanya diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat sehari sebelum pertandingan. Aturan visa yang ketat mewajibkan mereka meninggalkan AS pada hari yang sama setelah laga usai.
Kebijakan tersebut baru sedikit dilonggarkan saat Iran bertanding di Seattle. Tim diizinkan tiba dua hari lebih awal, namun tetap harus kembali ke Tijuana segera setelah pertandingan. Ghalenoei menyebut kondisi ini sebagai bentuk ketidakadilan yang seharusnya tidak terjadi di ajang sebesar Piala Dunia.
"Apa yang dilakukan para pemain saya harus tercatat dalam sejarah. Tuan rumah memperlakukan kami dengan sangat tidak adil," ujar Ghalenoei dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa meskipun menghadapi berbagai kesulitan, timnya mampu tampil kompetitif. "Saya mendesak FIFA: jangan biarkan tuan rumah memperlakukan tim seperti ini di Piala Dunia mendatang."
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menyatakan bahwa organisasinya telah berupaya keras memastikan Iran tetap bisa berpartisipasi. "Saat orang-orang mengatakan Iran tidak mungkin datang ke Piala Dunia, saya berjanji mereka akan datang. Saya tidak tahu siapa lagi yang bisa menjamin hal ini dalam situasi yang tidak bisa kami pengaruhi," kata Infantino sebelum turnamen. Ia bahkan sempat mengunjungi ruang ganti Iran setelah pertandingan imbang melawan Selandia Baru.
Di atas lapangan, nasib buruk ikut menghampiri. Iran nyaris memastikan tiket ke babak gugur saat Shoja Khalilzadeh mencetak gol di masa injury time melawan Mesir. Namun, gol tersebut dianulir setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) karena offside. "Saya dulu berpikir kami adalah tim yang tertindas, tapi setelah tiga pertandingan ini, saya sadar kami juga kurang beruntung," keluh Ghalenoei.
Kapten tim, Mehdi Taremi, menyebut turnamen ini sebagai "bencana logistik". "Bagaimana mungkin kami harus selalu bepergian ke Tijuana? Kami menyukai Meksiko dan rakyatnya, tetapi sebagai pemain profesional di kompetisi profesional, ini tidak benar," tegasnya.
Bagi Indonesia, kisah Iran menjadi pengingat pentingnya diplomasi olahraga dan jaminan perlakuan setara bagi semua peserta. Meski Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik geopolitik serupa, pengalaman Iran menyoroti bagaimana faktor politik dapat memengaruhi pelaksanaan turnamen global. Ke depannya, FIFA perlu merumuskan protokol yang lebih ketat untuk melindungi integritas kompetisi dari intervensi eksternal.
Dengan tiga grup masih menyisakan pertandingan, Iran masih memiliki peluang tipis untuk lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik. Namun, terlepas dari hasil akhir, kritik Ghalenoei telah membuka diskusi tentang batas kewajaran perlakuan politik terhadap peserta Piala Dunia. Apakah FIFA akan mengambil tindakan nyata, atau membiarkan insiden serupa terulang di edisi mendatang?



