GSI dan Persita Berkolaborasi Cari Talenta Muda, Targetkan Ulang Sukses Firman Utina
Baca dalam 60 detik
- Geothermal Soccer Indonesia (GSI) resmi diluncurkan sebagai komunitas yang memadukan sepak bola, edukasi energi panas bumi, dan pembinaan usia dini.
- GSI menggandeng Persita Tangerang untuk menjaring bibit pemain dari daerah terpencil, dengan harapan mengulang kisah sukses Firman Utina dan Ilham Jaya Kesuma.
- Kompetisi Geothermal League 2026 diikuti 36 tim dan didukung 45 sponsor, sementara turnamen U-14 antar-SMP dijadwalkan bergulir pada Oktober.

Geothermal Soccer Indonesia (GSI) resmi meluncurkan program pembinaan sepak bola yang tidak hanya bertujuan mencetak pemain muda berbakat, tetapi juga mengenalkan potensi energi panas bumi kepada masyarakat. Dalam grand launching di Jakarta, Jumat (26/6/2026), GSI mengumumkan kerja sama dengan Persita Tangerang untuk menjaring talenta dari wilayah terpencil, dengan target mengulang jejak sukses Firman Utina dan Ilham Jaya Kesuma.
Komunitas ini mengusung konsep unik: sepak bola sebagai medium edukasi energi terbarukan. Ketua GSI, Carson Hakama, menjelaskan bahwa olahraga yang digemari lintas usia ini dipilih karena daya jangkau dan popularitasnya di masyarakat. "Kami ingin memperkenalkan potensi besar geothermal Indonesia sekaligus membuka ruang pencarian bakat di lapangan hijau," ujarnya. Pendekatan ini diharapkan dapat menyatukan berbagai kalangan di sekitar lokasi pengembangan energi panas bumi.
Langkah pertama GSI diwujudkan melalui Geothermal League, kompetisi antarkorporasi yang akan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Tahun ini, jumlah peserta meningkat signifikan menjadi 36 tim, naik dari 28 tim pada edisi sebelumnya. Kompetisi ini juga mendapat dukungan dari lebih dari 45 sponsor, dan dirancang sebagai ajang pertemuan para pemangku kepentingan di sektor panas bumi, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga kontraktor.
Selain liga utama, GSI menyiapkan laga hiburan bertajuk trofeo pada penutupan kompetisi yang rencananya akan menghadirkan mantan pemain Timnas Indonesia. Namun, fokus utama GSI tidak hanya pada level korporasi. Mereka juga merambah pembinaan usia dini melalui Turnamen U-14 Antar-SMP yang dijadwalkan kick-off pada Oktober 2026. Turnamen ini menyasar sekolah menengah pertama di wilayah kerja panas bumi dan berlangsung selama 10 hingga 14 hari.
"Setelah era Piala Coca-Cola, turnamen antarsekolah seperti ini sudah jarang ada. Kami ingin menghidupkannya kembali," kata Carson. Tim juara atau pemain terbaik dalam turnamen ini berpotensi mendapatkan beasiswa ke sekolah favorit melalui jalur prestasi olahraga.
Kerja sama dengan Persita Tangerang menjadi sorotan utama. Presiden Persita, Ahmed Zaki Iskandar, mengungkapkan bahwa banyak lokasi lapangan geothermal berada di daerah terpencil yang justru menyimpan potensi pemain berbakat. "Bukan tidak mungkin di lokasi-lokasi tersebut ditemukan bibit-bibit pemain sepak bola Indonesia," ujarnya. Zaki mencontohkan Firman Utina dan Ilham Jaya Kesuma sebagai bukti keberhasilan Persita dalam menemukan talenta dari pelosok negeri. Melalui akademi, Elite Pro Academy (EPA), dan rencana program boarding school, Persita berkomitmen mengembangkan potensi ini bersama GSI.
Carson Hakama menambahkan bahwa komunikasi dengan Persita sudah berjalan intensif dalam beberapa pekan terakhir. Ia berharap Persita dapat menjadi proyek percontohan klub sepak bola nasional yang terlibat dalam kampanye energi terbarukan dan keberlanjutan. "Kami ingin Persita menjadi tim Indonesia pertama yang bekerja sama di dunia energi terbarukan. Sejauh ini perkembangannya sangat positif," ungkapnya.
Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga Kemenpora, Suyadi Pawiro, turut mengapresiasi sinergi ini. Menurutnya, olahraga tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga membangun karakter, kepemimpinan, kolaborasi, dan kepedulian terhadap isu-isu pembangunan. "Sinergi antara olahraga dan edukasi energi bersih merupakan inovasi yang sangat relevan untuk membangun generasi muda Indonesia," katanya.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana GSI mampu menjaring talenta muda sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap energi panas bumi. Akankah kolaborasi ini melahirkan generasi baru pemain sepak bola berwawasan lingkungan?



