Kapten Iran Taremi Sesalkan Logistik Piala Dunia 2026: 'Kami Tak Diharapkan di Sini'
Baca dalam 60 detik
- Kapten Iran Mehdi Taremi mengecam masalah logistik selama Piala Dunia 2026 di AS, menyebut turnamen sebagai 'bencana' dan meragukan sambutan terhadap timnya.
- Iran menghadapi kendala perjalanan dari markas di Meksiko, dengan izin terbang hanya dua hari sebelum laga, sementara ketegangan geopolitik AS-Iran turut mewarnai pertandingan.
- Kritik Taremi menyoroti kesenjangan perlakuan terhadap tim peserta dan menimbulkan pertanyaan tentang peran FIFA dalam menjamin keadilan penyelenggaraan.

Kapten tim nasional Iran, Mehdi Taremi, melontarkan kritik tajam terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, menyebut kondisi yang dihadapi timnya tidak layak bagi kompetisi sekelas turnamen sepak bola tertinggi dunia. Usai laga imbang 1-1 melawan Mesir di Seattle, Jumat (26/6/2026), Taremi mempertanyakan apakah Iran benar-benar diharapkan hadir di ajang ini.
Pertandingan yang berlangsung di Seattle Stadium itu menyisakan kekecewaan bagi Iran. Taremi gagal mengeksekusi penalti pada awal babak pertama, dan sundulannya membentur mistar gawang. Gol yang sempat dianggap sebagai penentu kemenangan Iran dianulir karena offside, padahal andai gol itu sah, Iran untuk pertama kalinya dalam tujuh kali partisipasi akan lolos ke fase gugur. Hasil imbang ini membuat peluang Iran masih bergantung pada hasil laga lain di grup.
Namun, sorotan utama bukan hanya soal hasil di lapangan. Taremi dengan gamblang mengkritik aspek logistik yang menurutnya sangat tidak profesional. Ia menyebut turnamen ini sebagai "bencana" dan menyesalkan bahwa FIFA tidak mampu menyelesaikan masalah sejak awal. "FIFA seharusnya menyelesaikan setiap masalah di sini, tapi sayangnya mereka tidak bisa menghentikannya sejak awal," ujar Taremi kepada wartawan seusai laga.
Lebih lanjut, Taremi mengungkapkan bahwa Presiden FIFA Gianni Infantino sempat mengunjungi ruang ganti Iran setelah pertandingan pertama dan berkata, "ini baru permulaan." Namun, menurut Taremi, hingga fase grup hampir usai, timnya masih belum mendapatkan petugas logistik yang memadai. "Bagaimana mungkin kami harus selalu bepergian ke Tijuana? Kami mencintai rakyat Meksiko, mereka sangat ramah. Tapi sebagai pemain profesional, dalam kompetisi profesional, ini tidak benar," tegasnya.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat turut mewarnai laga tersebut. Beberapa suporter di stadion mengibarkan bendera Iran era pra-revolusi dan mencemooh lagu kebangsaan Iran. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, dan kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata yang disepakati pekan lalu. Situasi ini membuat atmosfer pertandingan semakin panas.
Bagi Indonesia, kritik Taremi menjadi pengingat pentingnya aspek logistik dan perlakuan setara dalam penyelenggaraan turnamen internasional. Meski Indonesia belum menjadi tuan rumah Piala Dunia, pengalaman Iran menunjukkan bahwa faktor non-teknis seperti kemudahan perjalanan, izin terbang, dan dukungan logistik bisa sangat memengaruhi performa tim. Jika Indonesia kelak menjadi tuan rumah ajang serupa, kesiapan infrastruktur dan pelayanan terhadap seluruh peserta harus menjadi prioritas utama.
Taremi juga menyiratkan bahwa kehadiran Iran di Amerika Serikat mungkin tidak lagi diinginkan. "Siapa yang mau membantu kami? Jika mereka ingin kami keluar, baiklah, kami akan keluar. Tapi itu tidak adil," katanya dengan nada frustrasi. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang peran FIFA sebagai penjamin netralitas dan kenyamanan semua tim peserta, terlepas dari hubungan politik negara asal mereka.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas kritik Taremi. Dengan satu pertandingan tersisa di fase grup, Iran masih memiliki peluang tipis untuk melaju ke babak 32 besar. Namun, terlepas dari hasil akhir, kritik Taremi telah membuka diskusi tentang standar penyelenggaraan Piala Dunia dan apakah semua tim benar-benar mendapat perlakuan yang sama.



