Trump Cetak Sejarah: Wajahnya Sendiri di Paspor AS Edisi Khusus
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump meluncurkan desain paspor peringatan 250 tahun kemerdekaan AS yang menampilkan potret dirinya, menjadikannya presiden pertama yang muncul di dokumen perjalanan warga AS.
- Paspor edisi terbatas ini hanya tersedia melalui janji temu di Washington mulai 6 Juli, dengan stok terbatas, menandai langkah terbaru Trump dalam membubuhkan cap personal pada institusi pemerintah.
- Langkah ini memicu perdebatan soal batas antara identitas pribadi pemimpin dan simbol negara, serta berpotensi memengaruhi persepsi global terhadap citra AS.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi memperkenalkan desain paspor edisi khusus untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan AS—dengan potret dirinya yang tegas menghiasi halaman depan. Ini adalah pertama kalinya seorang presiden yang sedang menjabat tampil dalam dokumen perjalanan warga negara, sebuah langkah yang langsung memicu perdebatan soal personalisasi simbol negara.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Jumat (26 Juni), Trump membagikan gambar mock-up paspor yang ia sebut sebagai “Paspor AS yang Baru, yang bertuliskan, 'Selamat datang, tapi bersikaplah baik!'” Desain tersebut menampilkan foto Trump yang tampak serius sedang bersandar di meja kerjanya, dengan latar belakang teks Deklarasi Kemerdekaan. Potret itu diyakini diambil oleh fotografer Gedung Putih Daniel Torok. Di halaman seberangnya, terdapat lukisan penandatanganan deklarasi pada 1776, dengan tulisan “United States of America 250”.
Gedung Putih juga mengunggah gambar serupa dengan label “PATRIOT PASSPORT”. Departemen Luar Negeri AS, yang sebelumnya mengumumkan akan menerbitkan paspor peringatan dengan “karya seni khusus” mulai 6 Juli, belum memberikan tanggapan resmi. Seorang pejabat departemen pada April lalu mengatakan bahwa paspor bertema Trump ini hanya tersedia melalui janji temu langsung di Washington “selama masih ada ketersediaan”.
Bagi Indonesia, langkah ini menarik untuk dicermati dalam konteks diplomasi dan persepsi publik. Paspor adalah dokumen resmi yang merepresentasikan negara, bukan individu. Ketika seorang pemimpin menempatkan citra dirinya di atas simbol kenegaraan, hal itu dapat menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara identitas pribadi dan institusi. Di Indonesia, tradisi pencantuman foto presiden di dokumen negara sudah lazim, tetapi tidak sampai menggantikan simbol-simbol nasional seperti Garuda Pancasila. Langkah Trump bisa menjadi bahan perbandingan bagi negara-negara lain yang tengah meninjau ulang desain dokumen perjalanan mereka.
Pengamat kebijakan publik menilai bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk memperkuat citra nasionalis dan personal branding di tahun-tahun terakhir masa jabatannya. “Ini bukan sekadar paspor, ini pernyataan politik,” ujar seorang analis komunikasi politik di Washington. “Trump ingin setiap warga yang bepergian ke luar negeri membawa serta citranya, seolah-olah dia adalah duta besar pribadi bagi setiap warga AS.”
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah desain ini akan bertahan jika terjadi pergantian pemerintahan. Paspor edisi khusus biasanya bersifat sementara, tetapi preseden yang diciptakan bisa memicu tuntutan agar pemimpin berikutnya juga tampil di dokumen serupa. Atau justru sebaliknya, desain ini akan ditarik dan diganti dengan yang lebih netral. Yang jelas, paspor edisi 250 tahun ini akan menjadi barang koleksi yang diperebutkan—dan sekaligus menjadi simbol era Trump yang tak lazim.



