Bola Lebih Kecil, Ambisi Lebih Besar: Inggris Siap Gebrak WXV dengan Strategi Baru
Baca dalam 60 detik
- Timnas wanita Inggris akan memakai bola ukuran 4.5 yang 3% lebih kecil pada WXV 2025, sebuah uji coba yang menuai pro-kontra di kalangan pemain.
- Pelatih John Mitchell menilai kunci sukses bukan pada ukuran bola, melainkan kualitas pembinaan, sambil membuka ruang untuk penyesuaian strategi permainan.
- Dengan enam laga melawan Kanada, Australia, Selandia Baru, dan AS, Inggris menjadikan WXV sebagai ajang uji coba menuju Piala Dunia 2029 di Australia.

Tim nasional rugby putri Inggris, Red Roses, memasuki babak persiapan pramusim di Nottingham dengan membawa misi besar: menguji coba bola berukuran baru yang lebih kecil dalam ajang WXV Global Series, sekaligus mematangkan skuad menuju Piala Dunia 2029. Keputusan ini bukan tanpa kontroversi, namun pelatih kepala John Mitchell justru melihatnya sebagai peluang untuk memperkuat fundamental permainan.
World Rugby telah menetapkan penggunaan bola ukuran 4.5—sekitar tiga persen lebih kecil dari ukuran standar lima, tetapi dengan bobot yang sama—untuk seluruh rangkaian WXV. Bola ini mulai dipakai di kamp latihan Inggris, dan para pemain penyerang serta pengumpan telah diberi satu unit untuk dibawa pulang selama liburan. Namun, langkah ini memicu perdebatan; pada Mei lalu, pemain fly-half Zoe Harrison mengecamnya sebagai "keputusan terburuk yang pernah ada".
Mitchell, yang resmi menjadi warga negara Inggris pada musim panas ini, menegaskan bahwa kunci adaptasi bukan terletak pada ukuran bola, melainkan pada kualitas pembinaan. "Jika ingin menjadi lebih baik, apa pun ukuran bolanya, semuanya bergantung pada pembinaan. Saya pikir para pemain kami telah dibina dengan baik," ujarnya. Ia juga mengakui bahwa terlalu dini untuk menilai dampaknya terhadap permainan offload atau operan, dan menyiratkan adanya konsekuensi yang mungkin muncul, seperti tendangan yang lebih mudah direbut—sesuatu yang ingin dihindari timnya karena menjadi pembeda dengan permainan pria.
World Rugby sebenarnya telah menguji bola ini di sirkuit Sevens putri pada November lalu. Mitchell menilai uji coba tersebut "mungkin membantu tim lain", tetapi kesimpulan baru akan ditarik setelah tiga laga kandang pertama. Inggris akan menghadapi Australia, Kanada, dan Selandia Baru di kandang pada September, sebelum bertandang ke Kanada dan Amerika Serikat pada Oktober. Jadwal padat ini, menurut Mitchell, adalah ujian tersendiri yang sengaja dirancang untuk meniru kondisi Piala Dunia 2029 di Australia.
Di luar persoalan teknis, Mitchell juga tengah merombak struktur tim. Ia memberikan kontrak penuh waktu pertama kepada Mia Venner (sayap Gloucester-Hartpury) dan Flo Robinson (scrum-half Exeter). Robinson dinilai sebagai calon penerus Natasha Hunt yang kini berusia 37 tahun. "Apakah kami akan membawa Mo ke Piala Dunia berikutnya? Kami tidak tahu. Sangat penting untuk memastikan kami menumbuhkan pemain berikutnya, dan Flo jelas mengambil peran itu," kata Mitchell. Sementara itu, Marlie Packer (36) yang sempat mempertimbangkan pensiun, tetap dipertahankan dengan syarat: "seseorang harus datang dan mengambil jersey-nya" jika ingin menggantikannya.
Di sisi kepelatihan, Emily Scarratt, mantan pemain terbaik dunia, resmi bergabung sebagai pelatih penyerang dan belakang penuh waktu setelah sebelumnya berstatus interim. Mitchell mengakui bahwa kelompok kepelatihan menjadi "lebih cerdas" dengan kehadiran Scarratt, dan ia akan memberikan tanggung jawab lebih besar secara bertahap. "Saat Em pertama mulai, saya tidak ingin membebaninya dengan banyak hal, jadi saya memberinya tugas yang cukup spesifik. Sekarang, dia pasti punya kemampuan untuk mengambil alih total serangan," jelasnya.
WXV Global Series memang tidak memiliki klasemen atau trofi—hanya serangkaian pertandingan uji. Namun, bagi Mitchell, ini adalah kesempatan untuk membangun kesabaran dan mengeksplorasi strategi. "Tidak ada turnamen untuk dimenangkan, jadi kami bisa sangat sabar dalam menjalani proses," katanya. Dengan tiga laga melawan Kanada, yang baru saja dikalahkan di final Piala Dunia 2025, pertandingan ini sulit dipandang selain sebagai seri tiga pertandingan yang menarik. "Ini seperti audisi untuk Australia 2029, karena secara geografis kami pasti akan menempuh jarak yang cukup jauh. Kami mencoba meniru itu, memahami pentingnya koneksi, dan memainkan rugby yang menarik," pungkas Mitchell.
Bagi pengamat rugby di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski Indonesia belum memiliki timnas rugby putri yang kompetitif di level dunia, adopsi bola yang lebih kecil oleh World Rugby bisa menjadi sinyal perubahan regulasi yang berdampak pada cara bermain di semua level. Federasi rugby nasional mungkin perlu mengkaji ulang perlengkapan dan metode latihan untuk mengantisipasi tren global ini, terutama jika Indonesia ingin berkiprah lebih jauh di kancah Asia. Pertanyaannya, akankah Indonesia siap mengikuti jejak Inggris dalam memanfaatkan inovasi ini, atau justru tertinggal?



