Kementrans Putar Haluan: Kawasan Transmigrasi Disulap Jadi Pusat Industri dan Energi, Galang Siap Raup Investasi Triliunan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah mengalihkan fokus transmigrasi dari sekadar permukiman ke pengembangan ekosistem industri dan energi, dengan prioritas di Batam, Rempang, dan Galang.
- Lahan seluas 350 hektare di Galang telah disiapkan untuk investasi, termasuk galangan kapal yang nilainya diperkirakan menembus triliunan rupiah dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja.
- Kementrans juga menjajaki eksplorasi logam tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat, sejalan dengan target revitalisasi 45 kawasan transmigrasi prioritas nasional dalam RPJMN 2025โ2029.

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) tidak lagi memandang kawasan transmigrasi sekadar tempat tinggal dan lahan pertanian. Di bawah kepemimpinan Menteri Iftitah Sulaiman Suryanagara, pemerintah menyiapkan transformasi besar-besaran: menjadikan wilayah-wilayah tersebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menggarap sektor industri dan energi, dengan dua lokus awal di Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, Iftitah mengungkapkan bahwa kawasan Galang, yang masuk dalam wilayah Batam, telah mendapat hak pengelolaan seluas 350 hektare. Separuh dari lahan itu kabarnya sudah dilirik investor untuk membangun galangan kapal. Nilai investasinya disebut-sebut mencapai triliunan rupiah, sebuah angka yang sulit dibayangkan untuk kawasan yang selama ini identik dengan program transmigrasi era Orde Baru.
"Kami diberikan hak pengelolaan untuk 350 hektare yang ada di Galang. Fokusnya industri," ujar Iftitah. Ia menambahkan bahwa proyek galangan kapal tersebut tidak hanya membawa modal besar, tetapi juga berpotensi menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan. Bahkan, menurut perhitungan Kementrans, pemanfaatan lahan transmigrasi seluas 150 hektare saja bisa menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 21 ribu orang.
Selain Kepri, Kementrans juga mengarahkan perhatian ke Mamuju, Sulawesi Barat, yang menyimpan potensi logam tanah jarang (LTJ). Iftitah mengaku telah bertemu dengan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) untuk membahas eksplorasi komoditas strategis itu. Sebelumnya, Kementrans juga sudah berdialog dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan eksplorasi berjalan tanpa mengganggu fungsi kawasan transmigrasi.
Langkah ini menandai pergeseran paradigma di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Jika dulu program transmigrasi diukur dari jumlah penduduk yang dipindahkan atau luas lahan yang dibuka, kini fokusnya adalah kualitas pembangunan. "Kita bangun satu pembangunan ekonomi yang juga terintegrasi," tegas Iftitah, menekankan bahwa kawasan transmigrasi harus menjadi ekosistem investasi yang menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Indonesia, arah baru ini memiliki implikasi strategis. Kawasan transmigrasi yang tersebar di berbagai daerah berpotensi menjadi magnet investasi baru di luar Pulau Jawa. Namun, tantangannya tidak kecil: infrastruktur yang belum merata, kepastian hukum lahan, dan kesiapan sumber daya manusia lokal menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Apakah pemerintah mampu menarik investor tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat setempat? Pertanyaan ini akan menentukan apakah transformasi transmigrasi benar-benar menjadi mesin pertumbuhan baru atau sekadar wacana.



