Andrea DeCruz dan Pierre Png: Cinta yang Bertahan Setelah Transplantasi Hati
Baca dalam 60 detik
- Pasangan selebriti Singapura itu berbagi kisah perjuangan melawan gagal hati yang mengubah hidup mereka.
- Transplantasi hati yang dilakukan Pierre untuk Andrea menjadi fondasi pernikahan mereka yang bertahan 23 tahun.
- Episode terbaru On The Red Dot mengungkap bagaimana mereka menghadapi ketakutan dan merayakan kehidupan.

Dua dekade setelah Andrea DeCruz menjalani transplantasi hati yang menyelamatkan nyawanya, aktris sekaligus pengusaha berusia 52 tahun itu kembali membuka lembaran kelam yang hampir merenggut segalanya. Dalam episode terbaru program dokumenter CNA Insider, On The Red Dot, yang tayang Senin lalu, DeCruz dan suaminya, Pierre Png, menceritakan bagaimana pengalaman nyaris kehilangan nyawa itu justru memperkuat ikatan mereka hingga kini.
Pada 2002, DeCruz didiagnosis mengalami gagal hati akut. Kondisinya memburuk dengan cepat; dalam hitungan minggu, ia harus menjalani transplantasi. Pierre, yang saat itu masih berstatus kekasih, tanpa ragu mendonorkan sebagian hatinya. Keputusan itu, menurut pengakuan keduanya, menjadi titik balik yang mengubah cara pandang mereka terhadap hidup dan cinta.
Dalam episode yang sama, pasangan ini diajak merenungkan bagaimana mereka akan menghabiskan hari terakhir di bumi. DeCruz mengaku ingin mencoba pertukangan dan menaklukkan rasa takutnya pada ketinggian. "Setelah transplantasi, kesadaran bahwa saya hampir kehilangan nyawa benar-benar menghantam. Saya tidak pernah mencoba mengatasi rasa takut atau melakukan hal ekstrem karena saya lebih menghargai hidup," ujarnya.
Momen emosional terjadi ketika DeCruz berhasil menuruni Split Rock Summit di Rainforest Wild Adventure, lalu menerima tantangan Pierre untuk mencoba Giant Swing di Skypark Sentosa. "Kehadiran Pierre di sisi saya adalah segalanya. Keberanian selalu datang darinya," kata DeCruz. "Jika ini hari terakhir saya dan dia meminta saya melakukan sesuatu yang ekstrem, saya akan melakukannya bersamanya karena saya berpegangan padanya untuk hidup saya."
Mengenang masa-masa kritis, DeCruz menceritakan bagaimana ia awalnya mengira kelelahan yang dirasakannya hanya akibat jadwal syuting yang padat. Baru setelah sang kakak, yang bekerja di National Kidney Foundation, memperhatikan warna kuning di matanya, ia memeriksakan diri. "Dokter menekan perut saya dan berkata, 'Hati Anda meradang.' Sejak itu, semuanya memburuk," kenangnya. Ia dirawat pada 11 April dan menjalani transplantasi pada 7 Mei. Sebelum operasi, seorang pastor sempat menjenguknya. "Saya bilang, jika Tuhan memanggil, saya siap karena hidup saya sudah penuh," tambahnya.
Pierre, yang kini berusia 52 tahun, mengungkapkan bahwa saat transplantasi, ia dan Andrea tidak memiliki hubungan darah. "Mereka ingin memastikan ada ikatan emosional antara kami. Saya kekasihnya dan saya melamarnya," katanya. Keputusan menikah diambil secepat mungkin setelah operasi, sebagai bentuk komitmen atas pengalaman yang mengubah hidup mereka.
Ketika ditanya apakah ia mengira pernikahan mereka akan bertahan selama ini, DeCruz menjawab dengan mata berkaca-kaca. "Jujur, saya tidak pernah memikirkannya. Saat menikah, saya berharap kami akan bersama selamanya sampai hari terakhir. Seperti yang selalu saya katakan, jika saya pergi, saya berharap pergi bersamamu," ujarnya.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini menggarisbawahi pentingnya deteksi dini penyakit hati dan dukungan keluarga dalam proses penyembuhan. Di Indonesia, kasus gagal hati sering kali terlambat ditangani karena minimnya kesadaran akan gejala awal. Kisah DeCruz juga menyoroti bagaimana transplantasi hati dari donor hidup bisa menjadi solusi, meski masih terbatas di beberapa rumah sakit besar. Dukungan emosional dari orang terdekat, seperti yang dialami DeCruz, terbukti berperan besar dalam pemulihan pasien.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana sistem kesehatan di kawasan ini dapat meningkatkan akses transplantasi organ dan edukasi publik. Kisah Andrea dan Pierre menjadi pengingat bahwa di balik teknologi medis, ada kekuatan cinta dan keteguhan yang tak ternilai. Mampukah lebih banyak keluarga di Indonesia terinspirasi untuk mendonorkan organ demi menyelamatkan nyawa orang yang mereka cintai?



