El Nino Ekstrem Mengintai Asia Tenggara: Ancaman Pangan dan Inflasi Menanti
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Nino super diprediksi memicu kekeringan dan gelombang panas ekstrem di Asia Tenggara pada 2026-2027.
- Negara-negara seperti Thailand, Indonesia, dan Filipina berisiko mengalami gagal panen serta lonjakan harga pangan.
- Para ahli menyerukan percepatan adaptasi pertanian dan perlindungan pekerja rentan menghadapi dampak yang lebih parah.

Bangkok, LyndHub โ Para ilmuwan dan petani di Asia Tenggara bersiap menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah, dengan potensi memicu kekeringan berkepanjangan, gelombang panas ekstrem, dan gangguan besar pada produksi pangan regional. Ancaman ini datang di saat dunia telah memanas 1,4-1,5 derajat Celsius, membuat dampaknya diperkirakan jauh lebih parah dibanding peristiwa serupa di masa lalu.
El Nino, yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, bertindak sebagai pengganda yang memperpanjang durasi gelombang panas dan menekan pasokan air. Model dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah kunci Pasifik khatulistiwa akan rata-rata 2 derajat Celsius di atas normal pada Juli-September, dengan puncak biasanya terjadi antara November dan Februari. Para peneliti memperkirakan peristiwa ini bahkan bisa melampaui rekor El Nino 1997-1998 yang memicu kebakaran hutan besar di Indonesia dan kerugian ekonomi miliaran dolar.
Thailand menjadi salah satu negara yang paling rentan, terutama sektor pertanian, waduk, dan permintaan listrik. Surachai Parunram, petani padi dan tebu berusia 55 tahun dari Nakhon Ratchasima, telah mengubah pola tanam dan beternak babi hutan yang lebih tahan kekeringan. Namun ia mengaku khawatir karena banyak petani yang terlilit utang dan tidak tahu harus menanam apa tanpa kepastian air. "Kami butuh strategi bertahan hidup di mana air menjadi faktor utama," ujarnya, seraya menambahkan bahwa informasi pemerintah yang tidak konsisten membuat petani kehilangan kepercayaan.
Dampak El Nino tidak hanya berhenti di sektor pertanian. Riset Bloomberg Economics menunjukkan inflasi harga konsumen di Indonesia dan Filipina bisa naik hingga dua poin persentase akibat gagal panen yang mendorong harga pangan melonjak. Komoditas utama seperti beras dan minyak sawit terancam, sementara krisis energi yang sedang berlangsung di kawasan akan semakin memperburuk tekanan ekonomi. Selain itu, pemanasan laut diprediksi memicu pemutihan karang massal yang merusak ekosistem laut dan pariwisata bahari.
Pemerintah di kawasan telah bergerak. Indonesia mendistribusikan 100.000 pompa air, merehabilitasi 900.000 hektare irigasi, dan mengerahkan satuan tugas untuk mengendalikan kebakaran hutan di 107.000 hektare. Filipina memperluas infrastruktur irigasi dan menyusun kerangka kesiapsiagaan nasional, sementara Thailand memerintahkan instansi terkait menyiapkan cadangan air dan rencana pertanian darurat. Namun para ahli menilai kesiapan di lapangan masih jauh dari cukup. Seree Supratid dari Rangsit University mengingatkan bahwa dampak terparah justru akan terjadi empat hingga enam bulan setelah puncak El Nino, termasuk potensi banjir 100-200 tahunan saat musim hujan kembali.
Di tingkat regional, Komisi Sungai Mekong (MRC) mencatat peningkatan sistem pemantauan dan koordinasi air antarnegara sejak kekeringan parah dekade terakhir. Dengan 80 stasiun pemantau dan data dari 13 bendungan hidroelektrik, negara-negara seperti Vietnam dan Kamboja mulai menyiapkan skenario kekeringan dan intrusi air asin. Namun, organisasi kemanusiaan CARE mengingatkan bahwa El Nino datang di saat kerawanan pangan sudah tinggi dan pendanaan bantuan menyusut. Ram Das, direktur CARE Bangladesh, menyebut situasi ini "sangat mengkhawatirkan" karena banyak keluarga kehilangan kapasitas untuk bertahan.
Bagi Indonesia, ancaman El Nino ini menjadi ujian nyata bagi ketahanan pangan dan pengendalian kebakaran hutan. Pengalaman pahit 2015-2016, ketika produksi beras regional merosot tajam, menjadi pelajaran bahwa dampaknya bisa langsung terasa di harga kebutuhan pokok. Pemerintah perlu memastikan bantuan seperti pompa air dan benih tahan kering benar-benar menjangkau petani kecil, bukan hanya menjadi program seremonial. Selain itu, perlindungan bagi pekerja luar ruangan dari risiko heat stroke, seperti aturan istirahat 10 menit per jam yang diterapkan Singapura, layak dipertimbangkan untuk diadopsi di kota-kota besar Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara Asia Tenggara mampu mengubah kesiapan menjadi aksi nyata di lapangan. Seperti diungkapkan Areeya Obidiegwu dari Kasetsart University, investasi riset dan aplikasi pertanian tidak akan berarti tanpa eksekusi yang terpadu. Petani seperti Surachai telah membuktikan bahwa adaptasi bisa dimulai dari bawah, tetapi dukungan kebijakan yang konsisten dan tepat sasaran tetap menjadi kunci. Jika tidak, El Nino super ini bukan hanya akan menjadi bencana iklim, tetapi juga krisis kemanusiaan dan ekonomi yang memperlebar kesenjangan yang sudah ada.



