Jokowi Dianugerahi Gelar "Baginda Pemuka Bangsa" dalam Prosesi Adat Lampung
Baca dalam 60 detik
- Presiden ke-7 RI Joko Widodo menerima gelar adat 'Baginda Pemuka Bangsa' dari lima kerajaan adat Lampung di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6).
- Prosesi yang sarat simbolisme ini menjadi agenda utama kunjungan tiga hari Jokowi di Lampung, menandai pengakuan atas kontribusinya terhadap pelestarian budaya.
- Jokowi berharap nilai-nilai adat Lampung dapat diwariskan ke generasi muda di tengah arus modernisasi yang kian deras.

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, resmi menyandang gelar kehormatan "Baginda Pemuka Bangsa" dalam sebuah prosesi adat Lampung yang berlangsung khidmat di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6) pagi. Gelar tersebut dianugerahkan oleh lima kerajaan adat Lampung sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Jokowi dalam merawat dan mempromosikan kebudayaan Nusantara.
Prosesi yang dimulai pukul 08.10 WIB itu diawali dengan tradisi Nemui Nyimah, yakni penyambutan tamu kehormatan menggunakan payung-payung adat berwarna kuning, merah, dan putih. Jokowi yang mengenakan pakaian adat Lampung bernuansa kuning keemasan lengkap dengan tumpal kain tapis dan penutup kepala khas, kemudian memasuki ruangan utama Kedatun Keagungan yang dihiasi ornamen emas dan kain adat megah.
Penganugerahan gelar ini melibatkan tiga persaudaraan adat, yaitu Penyeimbang Buwai Pemuka Way Kan, Buwai Subbing Terbanggi Balak, dan Buwai Bulan Megow Pak Tulang Bawang. Dalam prosesi tersebut, Jokowi dipersilakan duduk di Kursi Adat Onaca Haji dan menginjak kepala kerbau sebagai simbol pengukuhan. Setelahnya, ia mengikuti Tari Ngigel dan diarak menuju Museum Kedatun Keagungan.
Dalam sambutannya, Jokowi mengungkapkan rasa terima kasih dan kebahagiaannya atas penghormatan yang diberikan. "Penghormatan gelar ini menjadi suatu kehormatan, sekaligus wujud kuatnya keadatan yang masih terjaga di Provinsi Lampung," ujarnya. Ia juga mengapresiasi para tokoh adat yang terus melestarikan kebudayaan Lampung di tengah perkembangan zaman.
Jokowi menekankan pentingnya pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus. "Semoga ini akan diteruskan oleh anak cucu kita, sehingga budaya Nusantara, adat kebudayaan di Lampung tidak hilang begitu saja ditelan zaman yang semakin modern," pungkasnya. Pernyataan ini relevan di tengah kekhawatiran banyak pihak tentang tergerusnya tradisi lokal oleh globalisasi.
Kunjungan Jokowi ke Lampung yang berlangsung sejak Jumat (26/6) hingga Minggu (28/6) juga diisi dengan agenda politik dan sosial. Pada hari pertama, ia menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI di Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang serta mengikuti Kirab Pawai Budaya. Hari kedua, selain prosesi adat, Jokowi juga menghadiri Rakorda PSI Kota Bandarlampung dan bertemu relawan. Hari terakhir dijadwalkan mengunjungi Museum Transmigrasi, Padepokan Gajah Lampung, dan meninjau UMKM di Maliosewu, serta menghadiri Kirab Budaya Sekappung Limo Migo dan silaturahmi dengan kyai dan santri.
Penganugerahan gelar adat kepada mantan presiden ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga menegaskan peran Jokowi sebagai figur nasional yang diakui oleh struktur adat di daerah. Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah tradisi serupa akan terus dipertahankan untuk menghormati tokoh-tokoh negara, dan bagaimana generasi muda dapat diyakinkan untuk tetap menjaga warisan budaya di era digital.



