Diamnya Federasi Kecil di Tengah Perang Dingin FIFA: Ketakutan Kehilangan Dana Pembangunan
Baca dalam 60 detik
- Federasi sepak bola kecil di Oseania memilih bungkam dalam konflik internal FIFA karena dana pembangunan menjadi satu-satunya penopang operasional mereka.
- Mantan pejabat FIFA Alex Davani menilai sistem pendanaan yang diskresioner membuat negara kecil rentan terhadap tekanan politik, bukan karena apatis.
- Reformasi tata kelola FIFA menjadi kebutuhan mendesak agar suara federasi kecil tidak lagi terpinggirkan dalam pengambilan keputusan global.

Ketegangan internal FIFA yang memanas justru menempatkan federasi-federasi kecil di kawasan Oseania pada posisi yang sulit: mereka memilih bungkam bukan karena tak peduli, melainkan karena takut kehilangan aliran dana pembangunan yang menjadi nyawa operasional mereka. Demikian diungkapkan Alex Davani, mantan pemain tim nasional Papua Nugini yang juga pernah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal Football Australia.
Dalam wawancara dengan Reuters dari Brisbane, Davani menilai keheningan yang menyelimuti kawasan Oseania bukanlah bentuk persetujuan atau sikap apatis. Ia justru melihatnya sebagai respons yang bisa diprediksi dari federasi-federasi yang sangat bergantung pada dana FIFA. "Dalam lingkungan di mana dana pembangunan FIFA sering kali menjadi seluruh anggaran operasional asosiasi anggota dari Oseania, berbicara atau membentuk opini bisa membahayakan sumber pendanaan itu," ujarnya.
Konflik ini dipicu oleh usulan Gianni Infantino mengenai FIFA Forward Enterprise yang akhirnya ditarik kembali. Namun, Davani berharap diskusi yang muncul dapat membuka jalan bagi reformasi sistem pendanaan yang selama ini dinilainya cacat. Ia menyoroti bahwa statuta FIFA memang kerap menyebut program pembangunan, tetapi tidak pernah menegaskan bahwa dana tersebut adalah hak, bukan sekadar pemberian yang bisa ditarik sewaktu-waktu.
"Kita semua percaya bahwa Piala Dunia dan Piala Dunia Wanita adalah milik kita, dan dana pembangunan berasal dari aset-aset besar itu. Jika kita merasa memilikinya, asosiasi anggota seharusnya bisa menentukan arah penggunaannya," tegas Davani. Ia menambahkan bahwa ketidakjelasan status dana ini membuat federasi kecil rentan terhadap tekanan politik dari pusat.
Di tengah ketidakpastian itu, fakta menunjukkan bahwa masa kepemimpinan Infantino selama satu dekade membawa berkah finansial bagi federasi kecil. Dana pembangunan untuk Oseania meningkat dari sekitar 2-3 juta dolar AS per siklus empat tahun menjadi 8 juta dolar AS pada periode terakhir. Bahkan, FIFA Forward membiayai pembangunan pusat sepak bola nasional di Papua Nugini pada 2023, serta fasilitas serupa di Kepulauan Solomon dan stadion baru di Vanuatu.
Bagi Davani, tawaran 40 juta dolar AS tersebut memang menggiurkan, tetapi itu bukan kriteria utama dalam memilih pemimpin FIFA. Kawasan Oseania, menurutnya, membutuhkan pemimpin yang memahami tantangan unik seperti biaya transportasi antar pulau yang mahal, dampak perubahan iklim yang mengancam lapangan sepak bola, serta hak-hak masyarakat adat. "Itulah standar pemimpin yang berhak diharapkan oleh Oseania," katanya.
Ia juga menyayangkan bahwa perpecahan ini mengalihkan fokus dari pengembangan bakat. Padahal, Oseania memiliki talenta seperti Tim Cahill yang sempat bermain untuk Samoa sebelum membela Australia, dan Christian Karembeu, pemenang Piala Dunia asal Kaledonia Baru. "Masalahnya bukan pada bakat, melainkan pada sistem yang mengelilingi bakat tersebut," ujarnya. Davani berharap diskusi segera kembali pada hal yang esensial: bagaimana membuat sepak bola di kawasan ini lebih sering dimainkan dan berkembang.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi PSSI yang juga kerap bergantung pada dukungan FIFA untuk program pembinaan. Meski tidak senasib dengan federasi Oseania, pelajaran tentang pentingnya tata kelola yang transparan dan keberanian bersuara dalam forum global tetap relevan. Pertanyaannya, akankah reformasi yang diharapkan Davani benar-benar terwujud, atau justru federasi kecil akan terus berada dalam bayang-bayang ketakutan?



