Harga Minyak Dunia Melonjak 2%: Konflik Timur Tengah Kian Memanas, Pasokan Global Terancam
Baca dalam 60 detik
- Kekhawatiran pasokan akibat kebuntuan negosiasi AS-Iran dan serangan Houthi mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam sepekan terakhir.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis, sementara ekspor minyak melalui jalur tersebut menyusut hingga 32% dalam sepekan, menandakan gangguan pasokan yang nyata.
- Indonesia, sebagai importir minyak, berpotensi merasakan dampak melalui kenaikan harga BBM dan tekanan inflasi jika tren ini berlanjut.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak lebih dari dua persen pada Selasa (11/8), menembus level tertinggi dalam sepekan terakhir di tengah meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan pasokan yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah. Brent crude melesat 2,38 persen ke posisi 89,81 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,62 persen ke 84,28 dolar AS, mencerminkan kekhawatiran pasar yang kian dalam terhadap keamanan jalur energi global.
Lonjakan ini merupakan kelanjutan dari reli lebih dari lima persen pada hari sebelumnya, setelah Presiden AS Donald Trump merespons syarat-syarat perdamaian yang diajukan Iran dengan tuntutan balik berupa kompensasi atas korban jiwa dalam berbagai perang dan protes. Sikap tersebut dinilai analis semakin mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik meletus pada akhir Februari lalu.
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menggarisbawahi bahwa belum ada jalan keluar yang jelas untuk menyelesaikan kebuntuan ini. "Tidak ada jalur yang jelas menuju solusi dan pembukaan penuh selat tersebut saat ini, dan itu menambah tekanan naik baru pada harga," ujarnya, seraya menambahkan bahwa gangguan pasokan yang signifikan masih berlangsung. Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz merosot drastis menjadi hanya enam kapal pada Senin, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 11 kapal.
Analis Barclays dalam catatan mereka mengungkapkan bahwa ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 7 Agustus rata-rata hanya 3 juta barel per hari (bpd), turun tajam dari 4,4 juta bpd pada pekan sebelumnya. Penurunan hingga 32 persen ini menjadi bukti nyata bahwa gangguan pasokan bukan sekadar wacana. Sementara itu, serangan terhadap kapal kargo di Selat Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran pada Selasa, yang menewaskan tiga awak kapal, semakin mempertegas tingginya risiko keamanan di dua titik krusial jalur pelayaran energi dunia.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai risiko pencekikan di kedua selat tersebut masih sangat signifikan. "Bahkan pembatasan yang bersifat intermiten atau ancaman insiden lebih lanjut menjaga biaya asuransi tetap tinggi dan memaksa rute pelayaran lebih panjang... karena itu, aliran energi tampaknya akan tetap terkendala dalam waktu dekat," paparnya. Kondisi ini diperparah dengan keputusan Saudi Aramco menunda operasional kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel per hari hingga 30 Agustus setelah klaim serangan Houthi, serta langkah ADNOC yang terus menawarkan minyak mentah spot dalam tender kedelapan sejak awal Juni untuk mengalihkan pasokan dari Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar kabar manca negara. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, setiap kenaikan harga minyak dunia berpotensi membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Pemerintah perlu mencermati pergerakan harga ini, terutama dalam merumuskan kebijakan harga BBM di dalam negeri. Jika tren kenaikan berlanjut, bukan tidak mungkin tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan defisit transaksi berjalan akan semakin terasa. Di sisi lain, peluang peningkatan pendapatan negara dari sektor migas juga patut menjadi perhatian, mengingat Indonesia masih memiliki kontrak bagi hasil dengan sejumlah blok minyak.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kebuntuan diplomatik antara AS dan Iran akan menemukan titik terang, atau justru semakin memperdalam krisis. Dengan serangan Houthi yang masih aktif dan ketegangan yang belum mereda, pasar energi global tampaknya akan terus berada dalam ketidakpastian. Apakah OPEC+ akan merespons dengan meningkatkan produksi, atau justru memanfaatkan situasi untuk mengerek harga? Semua itu masih menjadi teka-teki yang akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.



