Aktor The Inbetweeners James Buckley Berhenti Minum Alkohol Setelah Diagnosis Penyakit Jantung Genetik
Baca dalam 60 detik
- James Buckley, pemeran The Inbetweeners, mengubah gaya hidup setelah dokter menemukan kadar Lipoprotein(a) tinggi yang meningkatkan risiko serangan jantung.
- Kondisi genetik ini juga memicu kekhawatiran terhadap kedua putranya, karena faktor keturunan dapat memengaruhi kesehatan mereka di usia yang sama.
- Keputusan berhenti minum ini menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini dan kesadaran akan kesehatan jantung, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga.

Aktor Inggris James Buckley, yang dikenal luas lewat perannya dalam serial komedi The Inbetweeners, mengumumkan keputusan drastis untuk menghentikan konsumsi alkohol dan merombak total pola makannya. Langkah ini diambil setelah pemeriksaan medis mengungkap bahwa dirinya mengidap kelainan genetik yang meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular secara signifikan.
Dalam episode terbaru podcast miliknya, At Home With The Buckleys, pria berusia 38 tahun itu menceritakan bahwa diagnosis tersebut terungkap melalui tes darah rutin. Dokter menemukan kadar Lipoprotein(a) yang tinggiโsejenis kolesterol yang diturunkan secara genetikโyang membuatnya berada dalam kategori risiko tinggi untuk mengalami serangan jantung atau masalah arteri di kemudian hari. "Saya punya penyakit genetik, kawan! Ini ada hubungannya dengan Lipoprotein(a)," ujarnya, sambil menambahkan bahwa dokter hanya bisa menyarankan perubahan gaya hidup karena tidak ada pengobatan khusus untuk kondisi ini.
Keputusan Buckley untuk berhenti minum terasa ironis, mengingat beberapa bulan lalu ia masih memuji pub sebagai tempat sakral dalam budaya Inggris. Dalam wawancara dengan BBC News pada Maret 2026, ia mengaku tumbuh besar di klub pekerja dan menganggap pub sebagai pusat komunitas. "Sampai sekarang saya masih tidak percaya bisa pergi ke pub. Saya sangat menyukainya, dan sayang sekali banyak pub yang tutup," katanya saat itu. Kini, ia harus merelakan kebiasaan tersebut demi kesehatan, meski mengaku sesekali masih ingin menikmati bir.
Selain kekhawatiran terhadap dirinya sendiri, Buckley juga mengungkapkan kecemasannya terhadap kedua putranya, Harrison dan Jude, yang ia besarkan bersama istrinya, Clair. Karena kondisi ini bersifat genetik, ada kemungkinan anak-anaknya mewarisi risiko yang sama. "Mereka baik-baik saja di usia mereka sekarang, tapi saat mencapai usia saya, masalahnya bisa muncul," tuturnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa penyakit jantung tidak hanya dipengaruhi gaya hidup, tetapi juga faktor keturunan yang sering kali tidak disadari.
Kisah Buckley menjadi pengingat penting bagi banyak orang, terutama di Indonesia, di mana kesadaran akan kesehatan jantung masih perlu ditingkatkan. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi di tanah air, dengan faktor risiko utama seperti hipertensi, diabetes, dan kebiasaan merokok. Namun, faktor genetik seperti Lipoprotein(a) sering kali terabaikan. Padahal, pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk tes darah, dapat membantu mendeteksi kondisi ini lebih awal. Dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dr. Bambang Widyantoro, Sp.JP, menekankan pentingnya skrining bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung. "Jika ada anggota keluarga yang mengalami serangan jantung di usia muda, sebaiknya lakukan pemeriksaan lipid lengkap, termasuk Lipoprotein(a)," ujarnya.
Keputusan Buckley untuk mengubah gaya hidup juga menyoroti tantangan yang dihadapi banyak orang ketika harus meninggalkan kebiasaan yang sudah mendarah daging. Di Indonesia, budaya minum-minuman beralkohol memang tidak sekuat di negara Barat, namun konsumsi minuman keras tetap menjadi masalah di beberapa daerah. Lebih dari itu, pola makan tinggi lemak dan gula yang banyak ditemui di perkotaan juga menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Perubahan kecil seperti mengurangi konsumsi alkohol, memperbanyak sayur dan buah, serta rutin berolahraga dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jantung jangka panjang.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Buckley akan mampu mempertahankan gaya hidup barunya ini, terutama dengan godaan untuk kembali ke pub favoritnya. Namun, dengan diagnosis yang jelas dan dukungan keluarga, ia tampak bertekad untuk menjalani hidup yang lebih sehat. Kisahnya juga membuka ruang diskusi tentang pentingnya deteksi dini dan peran genetika dalam kesehatan, sesuatu yang mungkin akan semakin relevan seiring berkembangnya teknologi medis di Indonesia.



