Korban Program SPPI Kopdes Merah Putih Bertambah: Lima Peserta Meninggal
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pertahanan mengonfirmasi total lima peserta program SPPI Kopdes Merah Putih meninggal selama pelatihan bela negara.
- Korban terakhir, Nola Diasari, meninggal akibat henti jantung setelah mengeluh sesak napas di kelas.
- Kemhan menyatakan seluruh korban telah lolos seleksi kesehatan, namun kasus ini memicu pertanyaan tentang prosedur keselamatan pelatihan.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengumumkan bahwa jumlah peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang meninggal dunia selama mengikuti pendidikan bertambah menjadi lima orang. Korban terakhir adalah Nola Diasari, peserta dari Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan, yang meninggal Jumat (27/6) malam setelah mengalami sesak napas dan henti jantung.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSD) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (27/6), menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban. Ia menjelaskan bahwa Nola mengikuti pembelajaran di kelas tanpa keluhan hingga pukul 18.45 WIB, lalu tiba-tiba mengeluh sesak napas dan badan panas. Tim kesehatan satuan pendidikan segera memberikan pertolongan pertama dan merujuknya ke IGD Rumah Sakit Singkawang pada pukul 19.20 WIB.
Setelah stabilisasi, Nola dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang untuk penanganan lebih lanjut sekitar pukul 20.20 WIB. Namun, dalam proses perawatan terjadi henti jantung. Resusitasi dan kardioversi dilakukan, tetapi nyawa korban tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal pada pukul 21.03 WIB. Sebelumnya, empat peserta lain juga meninggal dalam program yang sama, meskipun Kemhan belum merinci penyebab kematian mereka secara terpisah.
Ketut menegaskan bahwa seluruh peserta telah melalui pemeriksaan kesehatan menyeluruh, meliputi laboratorium darah, urin, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, serta pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa. Nola sendiri dinyatakan memenuhi syarat, meskipun ada catatan kelebihan berat badan. Kemhan mengklaim penanganan medis terhadap para korban telah sesuai prosedur, baik di satuan pendidikan maupun saat dirujuk ke rumah sakit.
Program SPPI Kopdes Merah Putih merupakan inisiatif pemerintah yang menggabungkan pelatihan bela negara dan manajerial bagi para sarjana untuk ditempatkan di desa-desa. Namun, rentetan kematian ini menimbulkan kekhawatiran publik mengenai standar keselamatan dan pengawasan medis selama pelatihan. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah protokol kesehatan sudah cukup ketat, terutama mengingat peserta memiliki kondisi medis yang beragam.
Ke depan, Kemhan dihadapkan pada tekanan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program ini. Apakah insiden ini akan mendorong revisi prosedur pelatihan atau bahkan penghentian sementara program? Publik menanti langkah konkret pemerintah untuk memastikan keselamatan peserta di masa mendatang.



