Kanada Tak Gentar Hadapi Publik Lawan: Tani Oluwaseyi Bawa Mentalitas 'Away' ke Laga Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Timnas Kanada akan meladeni Afrika Selatan di babak 32 besar Piala Dunia di Los Angeles, dengan modal pengalaman bertanding di Amerika Serikat.
- Penyerang Tani Oluwaseyi menegaskan timnya justru terpacu oleh atmosfer permusuhan dari suporter lawan, bukan gentar.
- Kebersamaan yang terbangun sejak Copa America 2024 dan Gold Cup 2025 menjadi fondasi utama kekuatan mental skuad asuhan Jesse Marsch.

Tim nasional Kanada tidak gentar meninggalkan kandang mereka di Vancouver untuk menghadapi Afrika Selatan pada babak 32 besar Piala Dunia di Los Angeles. Penyerang Tani Oluwaseyi justru menyebut atmosfer permusuhan dari suporter lawan sebagai bahan bakar tambahan yang memacu performa tim.
Kanada menggelar sesi latihan terakhir di Vancouver pada Jumat (26/6) sebelum bertolak ke California. Kekalahan dari Swiss di laga pamungkas grup B membuat mereka harus puas sebagai runner-up, sehingga laga knockout pertama tidak digelar di kandang sendiri. Sebaliknya, Swiss yang menjadi juara grup akan bermain di Vancouver. Namun, Oluwaseyi menegaskan bahwa timnya tidak merasa dirugikan.
โSaya rasa kami, saya tidak bilang lebih suka, tetapi kami benar-benar menikmati lingkungan yang penuh permusuhan,โ ujar Oluwaseyi di markas latihan tim. โKami sangat menyukai keramaian tandang, karena itu memberi motivasi ekstra untuk membuktikan bahwa semua suporter di sekitar kita salah.โ
Pengalaman bermain di Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir menjadi modal berharga bagi Kanada. Mereka telah berpartisipasi dalam Copa America 2024 dan CONCACAF Gold Cup 2025 yang digelar di AS. Oluwaseyi menekankan bahwa perjalanan bersama dalam turnamen-turnamen itu, baik saat gagal maupun sukses, telah merekatkan tim.
โSelama dua tahun terakhir kami mengikuti dua turnamen bersama โ Copa dan Gold Cup. Kami tumbuh bersama, gagal bersama, dan sukses bersama. Semua itu berpadu untuk membawa kami ke posisi sekarang: melangkah ke laga knockout Piala Dunia,โ kata Oluwaseyi.
Pelatih Jesse Marsch berhasil membangun ikatan yang kuat di dalam skuad. Menurut Oluwaseyi, semangat yang terbangun bukanlah mentalitas โkami lawan merekaโ, melainkan rasa persatuan yang tulus. โBagi kami, yang terpenting adalah kami sendiri โ para pemain di ruang ganti. Hasil kadang berpihak, kadang tidak, tapi yang utama adalah kecintaan kami terhadap kebersamaan dan bermain satu sama lain,โ tambahnya.
Rekan setim Tajon Buchanan juga optimistis menghadapi perjalanan ke selatan. โSekarang kami berada di fase knockout Piala Dunia, dan ini persis di mana kami ingin berada. Jadi, ini tentang pergi ke sana, bertanding, dan memenangkan pertandingan. Kami semua sangat bersemangat,โ ujar Buchanan.
Bagi Indonesia, keberanian Kanada menghadapi tekanan suporter lawan bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia kerap menghadapi atmosfer keras saat bertandang ke negara-negara Asia Tenggara lainnya. Mentalitas โawayโ yang dibangun melalui pengalaman turnamen berkelanjutan โ seperti yang dilakukan Kanada โ bisa menjadi kunci untuk meningkatkan performa di laga tandang.
Pertandingan Kanada vs Afrika Selatan akan menjadi ujian sejauh mana kebersamaan dan pengalaman turnamen mampu mengatasi tekanan bermain di hadapan publik yang tidak bersahabat. Mampukah Oluwaseyi dan kawan-kawan membuktikan bahwa atmosfer permusuhan justru menjadi sekutu mereka?



