Pesawat Kecil Tabrak Gedung Tertinggi Beijing, Otoritas Bungkam
Baca dalam 60 detik
- Sebuah pesawat seukuran mobil menabrak CITIC Tower, gedung pencakar langit tertinggi di Beijing, Jumat (26/6) sore.
- Polisi menutup akses jalan dan menyita rekaman warga, sementara unggahan media sosial tentang insiden itu cepat dihapus.
- Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah China; spekulasi soal kesengajaan atau kecelakaan masih mengemuka.

Sebuah pesawat ringan seukuran mobil menabrak CITIC Tower, gedung tertinggi di Beijing, pada Jumat (26/6) sore waktu setempat. Insiden itu langsung memicu penyegelan kawasan dan penghapusan konten media sosial, namun hingga kini otoritas China belum memberikan pernyataan resmi.
CITIC Tower, yang juga dikenal sebagai China Zun, menjulang 108 lantai di pusat bisnis ibu kota. Gedung tersebut merupakan markas konglomerat milik negara CITIC Group. Dua panel kaca di lantai atas dilaporkan rusak akibat benturan.
Sejumlah saksi mata yang diwawancarai Reuters menggambarkan suara dentuman keras sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Seorang kurir yang berada di lokasi mengaku mendengar suara "lebih keras dari kembang api" dan sempat merekam video pesawat yang menancap di gedung, tetapi kemudian menghapusnya karena takut diamankan polisi.
Polisi dengan cepat mengamankan lokasi dan meminta warga menghapus foto atau video yang diambil. Seorang pekerja kantoran di gedung tetangga melihat terpal biru menutupi benda sebesar Volkswagen Beetle di jalan samping gedung sekitar pukul 18.45. "Saya sedang turun untuk makan malam ketika seseorang bilang ada pesawat menabrak gedung sebelah. Kami melihat ke luar jendela dan melihat mobil polisi, ambulans, dan terpal biru," ujarnya.
Belum jelas apakah insiden ini disengaja atau kecelakaan. Wilayah udara pusat Beijing dikenal sangat ketat, sehingga kehadiran pesawat di area itu dianggap janggal oleh warga sekitar. "Sangat aneh ada pesawat terbang di kawasan ini," kata seorang saksi.
Ketika wartawan Reuters mencoba mencari informasi lebih lanjut, seorang petugas polisi meminta mereka pergi. Saat ditanya alasannya, petugas itu menjawab, "Kami semua tahu kenapa!"
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat betapa rentannya gedung pencakar langit terhadap ancaman serupa. Dengan maraknya pembangunan gedung tinggi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, pengawasan lalu lintas udara di sekitar kawasan padat penduduk menjadi isu yang patut diperhatikan. Otoritas penerbangan Indonesia mungkin perlu mengevaluasi kembali prosedur keamanan di sekitar gedung-gedung ikonik.
Ke depannya, publik menanti klarifikasi resmi dari pemerintah China. Apakah insiden ini murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan? Yang jelas, kebungkaman otoritas hanya memicu spekulasi dan kekhawatiran akan transparansi informasi di negeri Tirai Bambu.



