Dua Badai Tropis Ancam Jepang, Satu Juta Warga Diungsikan
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang mengeluarkan perintah evakuasi bagi satu juta penduduk seiring mendekatnya dua badai tropis yang memicu peringatan tanah longsor level tinggi.
- Gangguan transportasi meluas: lebih dari 200 penerbangan dibatalkan, layanan kereta dihentikan, dan pabrik Toyota di Kyushu sempat berhenti beroperasi.
- Badai Mekkhala dan Higos diperkirakan tiba bersamaan di Jepang barat dan timur, memperparah curah hujan akibat front musim yang sudah aktif.

Jepang bersiap menghadapi dampak ganda dari dua badai tropis yang mendekat secara simultan, memaksa otoritas mengungsikan sekitar satu juta penduduk dan menghentikan sebagian besar aktivitas transportasi di wilayah barat dan timur negara itu.
Badai Mekkhala—yang telah diturunkan statusnya dari topan menjadi badai tropis—bergerak melintasi Kepulauan Ryukyu selatan setelah sebelumnya menerjang Taiwan. Sementara itu, badai Higos diperkirakan mendekati Jepang timur dan berpotensi mendarat dalam waktu bersamaan. Kombinasi keduanya dengan front hujan musiman yang sudah lama bertahan diprediksi memicu curah hujan ekstrem di sebagian besar wilayah Jepang.
Kementerian Pertanahan Jepang melaporkan lebih dari 200 penerbangan dibatalkan, puluhan layanan kereta dihentikan, dan sejumlah jalan tol ditutup. Pabrikan otomotif Toyota bahkan menghentikan sementara operasional pabriknya di Kyushu selatan. Peringatan tanah longsor level tinggi telah dikeluarkan untuk daerah-daerah rawan, terutama di kawasan barat yang diperkirakan menjadi titik terdampak paling parah.
Di Taiwan, dampak badai Mekkhala juga terasa. Tiga wilayah selatan—Kaohsiung, Pingtung, dan Tainan—menutup kantor dan sekolah pada hari yang sama. Banjir bandang memutus jalur kereta utama yang menghubungkan utara dan selatan pulau. Di Kota Hsinchu, tempat TSMC—perusahaan semikonduktor terbesar dunia—bermarkas, aktivitas perkantoran dan sekolah juga dihentikan sejak siang.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan potensi peningkatan intensitas siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia, meskipun secara geografis Indonesia jarang dilanda badai langsung. Namun, efek tidak langsung seperti gelombang tinggi dan hujan lebat kerap mengganggu aktivitas pelayaran dan perikanan nasional.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Indonesia, pola cuaca seperti yang terjadi di Jepang menunjukkan bahwa perubahan iklim memperkuat interaksi antara front musiman dan badai tropis, menghasilkan curah hujan yang jauh melebihi normal. "Negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara perlu meningkatkan sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi banjir," ujarnya.
Dengan dua badai yang diperkirakan tiba hampir bersamaan, Jepang menghadapi ujian berat bagi sistem penanggulangan bencana yang selama ini menjadi acuan global. Pertanyaan yang muncul: apakah infrastruktur dan prosedur evakuasi yang ada mampu menangani skenario cuaca yang semakin tidak terduga?



