Rano Karno Yakin Jakarta Tembus Peringkat 65 Kota Global Tahun Ini
Baca dalam 60 detik
- Jakarta naik dari peringkat 74 ke 71 dalam indeks kota global selama delapan bulan pertama kepemimpinan Rano Karno.
- Pemprov DKI menargetkan masuk 50 besar pada 2030, dengan optimisme menembus peringkat 65 pada Oktober tahun ini.
- Penurunan RW kumuh hingga 50 persen menjadi salah satu indikator keberhasilan yang mendorong peningkatan peringkat.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno optimistis posisi Jakarta dalam indeks kota global akan merangkak naik signifikan pada tahun ini, setelah dalam delapan bulan pertama pemerintahannya berhasil melompat dari peringkat 74 ke 71. Target ambisius untuk menembus peringkat 65 pada Oktober mendatang dinilai realistis seiring berbagai capaian pembenahan kota.
Dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Rano mengungkapkan keyakinannya bahwa indeks Jakarta akan terus membaik. "Saya sangat yakin dalam tahun ini, mungkin dalam bulan-bulan Oktober, saya yakin pasti akan menjelang 65 indeksnya," ujarnya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah menetapkan target jangka panjang untuk masuk dalam jajaran 50 kota global terbaik pada 2030.
Rano menegaskan bahwa pembenahan Jakarta tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, melainkan juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Tidak ada gunanya kita membangun gedung, tapi kalau manusianya gagal," katanya. Pendekatan ini menjadi pembeda dengan periode sebelumnya yang kerap dikritik karena mengabaikan aspek sosial.
Salah satu indikator keberhasilan yang disorot adalah penurunan drastis jumlah Rukun Warga (RW) kumuh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam satu tahun terakhir, RW kumuh di Jakarta berkurang hingga 50 persen, dari lebih dari 400 menjadi 211 RW. Rano mengapresiasi peran serta masyarakat dalam pencapaian ini, yang menurutnya tidak semata-mata hasil kerja pemerintah.
Untuk mempercepat transformasi, Rano mendorong peralihan hunian dari rumah tapak ke rumah susun. Ia mencontohkan Singapura yang sukses mengatasi keterbatasan lahan dengan vertikalisasi. "Karena Jakarta ini kalau tidak dengan rumah susun, sama seperti Singapura kira-kira tahun 40-an. Kita harus naik ke vertikal, ke rumah susun. Itu bisa meningkatkan kesejahteraan," jelasnya. Namun, ia mengakui tantangan budaya karena sebagian warga masih lebih suka tinggal di rumah pribadi.
Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya memperbaiki peringkat global, tetapi juga kualitas hidup warga Jakarta secara langsung. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah target peringkat 65 pada Oktober benar-benar tercapai dan bagaimana konsistensi pembenahan setelahnya.



