Cannavaro Bebaskan Uzbekistan dari Tekanan, Fokus ke Laga Hidup Mati Lawan Kongo
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Fabio Cannavaro berusaha meredam beban mental pemain Uzbekistan jelang laga penentu Grup K Piala Dunia 2026 melawan Republik Demokratik Kongo.
- Setelah dua kekalahan telak dari Kolombia dan Portugal, Uzbekistan hanya punya harapan tipis lolos sebagai peringkat tiga terbaik, dan kemenangan atas Kongo menjadi harga mati.
- Cannavaro, kapten Italia juara 2006, memanfaatkan pengalamannya untuk mengelola tekanan turnamen, namun mengingatkan timnya harus siap menderita di lapangan.

Pelatih Uzbekistan, Fabio Cannavaro, sengaja menjauhkan skuadnya dari hiruk-pikuk tekanan tampil di Piala Dunia saat mereka bersiap menghadapi laga pamungkas Grup K melawan Republik Demokratik Kongo, Sabtu (26/6). Namun, mantan kapten Italia itu juga memberi peringatan keras: anak asuhnya harus siap menderita jika ingin menjaga asa melangkah ke babak 32 besar.
Uzbekistan, yang tampil sebagai debutan di turnamen ini, menelan dua kekalahan beruntun dari Kolombia dan Portugal dengan kebobolan total delapan gol. Kini, meski menang atas Kongo, nasib mereka belum sepenuhnya di tangan sendiri. Mereka harus bersaing memperebutkan satu dari delapan tiket peringkat ketiga terbaik — sebuah skenario yang menuntut kemenangan besar sekaligus bergantung pada hasil laga lain.
Di sisi lain, Kongo mengantongi satu poin berkat hasil imbang melawan Portugal, memberi mereka peluang lebih realistis untuk lolos. Pertandingan ini, sejak awal, sudah dipetakan Cannavaro sebagai partai kunci. “Mereka punya pemain berpengalaman, sangat fisik, tapi jelas lebih terjangkau bagi kami,” ujar Cannavaro dalam konferensi pers, Jumat (25/6).
Bagi Cannavaro, tekanan turnamen bukan hal baru. Ia mengaku sejak pengundian grup sudah mengetahui betapa beratnya jalan yang harus ditempuh. “Sejak hari pertama, saya mencoba menghilangkan tekanan dari pemain. Saya cukup beruntung bermain di level tinggi, jadi saya tahu persis kesulitan yang akan kami hadapi,” katanya. “Tekanan di Piala Dunia luar biasa. Besok pasti ada momen di mana kami harus menderita, dan jika tidak siap, kami akan selalu menemui masalah.”
Kekalahan telak 5-0 dari Portugal pada Selasa (23/6) menjadi pukulan berat. Namun, Cannavaro bergerak cepat memulihkan mental tim. “Beberapa hari terakhir saya coba menjernihkan pikiran pemain. Saya bilang, kalian tidak setiap hari dihantam serangan balik Bruno Fernandes dan Cristiano Ronaldo. Itu terjadi, sudah lewat, sekarang fokus ke pertandingan kami,” ungkapnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Uzbekistan di Piala Dunia 2026 menyajikan pelajaran berharga tentang manajemen tekanan di turnamen global. Timnas Indonesia, yang tengah gencar mengejar target lolos ke Piala Dunia, bisa meniru pendekatan Cannavaro: mengurangi beban psikologis pemain, namun tetap menuntut kesiapan fisik dan mental menghadapi lawan-lawan tangguh. Regenerasi pelatih asing di skuad Garuda pun kerap diuji dalam laga-laga penuh tekanan — sesuatu yang justru menjadi spesialisasi Cannavaro.
Laga melawan Kongo akan menjadi ujian terakhir bagi Uzbekistan di Piala Dunia ini. Cannavaro menegaskan, “Sejak pengundian, kami semua tahu bahwa Kongo adalah pertandingan kami.” Pertanyaannya, apakah tim debutan ini mampu bangkit dan menuliskan sejarah, atau justru pulang dengan kepala tegak meski gagal? Jawabannya akan terlihat di lapangan, Sabtu nanti.



