Sophie Turner Ungkap Warna Rambut Paling Berpengaruh di Mata Publik: Blonde Jawaranya
Baca dalam 60 detik
- Aktris Sophie Turner mengaku warna rambut pirang alaminya paling disukai publik, sementara rambut cokelat membuatnya lebih jarang dikenali.
- Pengalaman mewarnai rambut sejak usia 13 tahun untuk peran di Game of Thrones membuatnya tidak lagi terikat pada satu identitas warna rambut.
- Setelah mengatasi krisis identitas pasca Game of Thrones, Turner kini siap memerankan Lara Croft dalam serial Tomb Raider garapan Phoebe Waller-Bridge.

Sophie Turner, aktris yang namanya melekat lewat peran Sansa Stark di Game of Thrones, mengungkapkan bahwa warna rambut pirang alaminya mendapat respons paling positif dari publik. Dalam wawancara dengan Sydney Morning Herald, perempuan 30 tahun itu menceritakan bagaimana warna rambut memengaruhi cara orang memperlakukannya, sebuah pengakuan yang menyoroti tekanan penampilan di industri hiburan.
Turner, yang sejak usia 13 tahun harus mewarnai rambutnya menjadi merah untuk kebutuhan syuting, mengaku sudah tidak lagi mengidentifikasi diri dengan warna rambut tertentu. "Saya sudah mewarnai rambut sejak usia 13 tahun, ketika harus merah untuk Game of Thrones, jadi saya tidak benar-benar mengidentifikasi dengan warna rambut apa pun akhir-akhir ini, meskipun menarik untuk melihat bagaimana dunia bereaksi," ujarnya. Pernyataan ini muncul di tengah tren selebritas yang kerap berganti-ganti gaya rambut untuk tetap relevan di mata penggemar.
Menurut Turner, rambut pirang mendapat reaksi paling positif, sementara rambut merah memicu reaksi yang lebih ekstrem meski lebih jarang. "Dengan rambut cokelat, Anda agak tersamar, yang sangat saya nikmati. Saya lebih jarang dikenali, itu bagus," katanya. Pengakuan ini menarik karena menunjukkan bahwa di balik popularitas, ada keinginan untuk privasi yang justru didapat dari warna rambut yang lebih netral.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Hollywood. Di Indonesia, standar kecantikan yang sering kali mengagungkan warna kulit terang dan rambut lurus membuat banyak artis Tanah Air merasa perlu mengubah penampilan demi diterima publik. Namun, seperti yang dialami Turner, ada pula yang justru mencari cara untuk tidak terlalu menonjol, sebuah dilema yang kerap dihadapi para selebritas di era media sosial yang serba terbuka.
Di balik pembahasan soal rambut, Turner juga membuka diri tentang masa sulit setelah Game of Thrones berakhir pada 2019. Ia mengaku mengalami krisis identitas yang mendalam. "Saya tidak tahu siapa Sansa dan siapa Sophie. Saya terlalu muda untuk membaca buku-bukunya, jadi saya mengembangkan karakternya seiring waktu. Saya mengalami krisis identitas besar ketika melepaskannya; saya tidak benar-benar tahu siapa saya atau apa yang saya lakukan. Itu adalah masa yang aneh dan sulit," kenangnya. Pengakuan ini sejalan dengan fenomena 'post-series depression' yang banyak dialami aktor setelah membintangi serial panjang.
Kini, Turner bersiap menghadapi tantangan baru sebagai Lara Croft dalam serial Tomb Raider yang akan tayang di Prime Video. Ia berhasil mengalahkan sejumlah aktris muda berbakat, termasuk Mackenzie Davis, Emma Mackey, dan Lucy Boynton, untuk mendapatkan peran ikonik tersebut. Dalam pernyataannya, Turner mengaku sangat antusias. "Saya sangat senang bisa memerankan Lara Croft. Dia karakter yang sangat ikonik, sangat berarti bagi banyak orang โ dan saya akan memberikan segalanya," ujarnya.
Turner juga tidak sabar untuk bekerja dengan Phoebe Waller-Bridge, yang bertindak sebagai kreator, penulis, dan showrunner serial ini. Ia menyadari bahwa dirinya mengikuti jejak Angelina Jolie dan Alicia Vikander yang sebelumnya memerankan Lara Croft di layar lebar. "Itu sepatu yang sangat besar untuk diisi, mengikuti langkah Angelina dan Alicia dengan penampilan mereka yang kuat, tetapi dengan Phoebe di pucuk pimpinan, kami (dan Lara) berada di tangan yang sangat aman. Saya tidak sabar untuk melihat apa yang kami masak," katanya.
Keputusan Prime Video menghadirkan serial Tomb Raider dengan sentuhan Waller-Bridge menunjukkan tren adaptasi video game ke layar kaca yang semakin serius. Dengan penggemar setia yang sudah ada sejak era game pertama di tahun 1996, serial ini diharapkan mampu menyeimbangkan aksi dan kedalaman karakter. Pertanyaannya, mampukah Turner menghadirkan Lara Croft yang lebih kompleks dari versi-versi sebelumnya, sekaligus melepas bayang-bayang Sansa Stark yang melekat kuat di benak penonton?



