Rahasia di Balik Penerbangan Misterius Trump: Ancaman Pembunuhan dari Iran
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump dilaporkan menggunakan pesawat militer rahasia untuk meninggalkan Turki bulan lalu, menyusul adanya ancaman pembunuhan yang kredibel dari Iran.
- Operasi penipuan ini melibatkan pesawat umpan Air Force One yang membawa wartawan, sementara Trump diterbangkan dengan jet C-32A yang lebih kecil.
- Langkah pengamanan ekstrem ini menyoroti meningkatnya ketegangan AS-Iran dan menimbulkan pertanyaan tentang protokol keselamatan presiden di tengah konflik regional.

WASHINGTON, 10 Agustus โ Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan meninggalkan Turki bulan lalu dengan penerbangan militer rahasia, bukan dengan pesawat kepresidenan yang biasa digunakan, sebagai respons terhadap ancaman pembunuhan yang kredibel dari Iran. Menurut laporan Washington Post yang dirilis Senin (10/8), langkah luar biasa ini dilakukan saat ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat, dan menimbulkan pertanyaan baru tentang keamanan presiden di tengah situasi geopolitik yang rapuh.
Trump awalnya terbang ke Ankara untuk menghadiri KTT NATO menggunakan jet baru yang disumbangkan Qatar. Namun, saat meninggalkan Turki, ia secara tak terduga menggunakan Air Force One yang lebih tua, memicu spekulasi tentang masalah keamanan pada pesawat baru tersebut. Pesawat baru itu sebenarnya sedang dalam perjalanan internasional pertamanya, dan peningkatan kecepatan yang dilakukan pada pesawat tersebut telah menuai kritik terkait biaya dan keamanannya. Keputusan untuk beralih ke pesawat lama terjadi di tengah meningkatnya permusuhan dengan Iran, yang berbatasan langsung dengan Turki.
Sebelum berangkat dari Ankara, Trump mengumumkan di Truth Social bahwa ia akan menggunakan pesawat Air Force One biru muda yang lebih tua "untuk mengenang masa lalu" menuju RAF Mildenhall di Inggris, sementara pesawat baru akan singgah di pangkalan yang sama agar personel militer AS dapat melihat pesawat tersebut. Namun, setelah naik ke pesawat tua di depan kamera, Trump diam-diam dipindahkan menggunakan truk katering bandara ke pesawat yang lebih kecil, yaitu C-32A milik Angkatan Udara AS. Operasi penipuan ini, menurut Washington Post yang mengutip seorang pejabat AS yang mengetahui operasi tersebut, dipicu oleh adanya ancaman yang kredibel terhadap Trump.
Langkah serupa pernah dilakukan pada tahun 2000, ketika Presiden Bill Clinton menggunakan jet eksekutif tanpa tanda untuk terbang ke Pakistan, sementara Air Force One resminya dijadikan umpan. Dalam kasus ini, wartawan yang mengira mereka bepergian dengan Trump di Air Force One tuaโyang sebenarnya menjadi umpanโdiminta menutup tirai jendela kabin pers. Beberapa staf Gedung Putih juga percaya bahwa presiden berada di pesawat tersebut. Ketika ditanya kemudian mengapa mereka harus menutup tirai, Trump menjawab bahwa itu karena "mungkin penerbangan yang berbahaya." Ia menambahkan, "Tapi jika saya pergi, Anda ikut, kan?"
Pesawat C-32A yang membawa Trump tiba di Inggris sekitar pukul 22.20 waktu setempat, sementara Air Force One tua dan media tiba beberapa menit kemudian. Tidak jelas bagaimana Trump dipindahkan kembali ke Air Force One tua setelah mendarat. Jurnalis yang meliput perjalanan tersebut melaporkan bahwa Trump turun dari tangga Air Force One tua pada pukul 22.56, memberi isyarat damai kepada pers, lalu menyapa personel militer sebelum berjalan menuju pesawat baru yang disumbangkan Qatar.
Gedung Putih, melalui Direktur Komunikasi Steve Cheung, membenarkan bahwa jet sumbangan Qatar telah dilengkapi dengan protokol keamanan tingkat tinggi untuk memastikan keselamatan presiden dan stafnya. "Seperti yang telah dikatakan Presiden, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan semua alat yang kami miliki untuk menghadapi ancaman tersebut," ujar Cheung. Pentagon belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Bagi Indonesia, berita ini menyoroti betapa seriusnya ancaman keamanan yang dihadapi para pemimpin dunia, terutama di kawasan Timur Tengah yang bergejolak. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki hubungan diplomatik yang rumit dengan Iran dan AS. Ketegangan antara kedua negara adidaya ini dapat berdampak pada stabilitas harga minyak dunia, yang pada gilirannya mempengaruhi ekonomi Indonesia. Selain itu, insiden ini juga mengingatkan pentingnya protokol keamanan yang ketat bagi para pemimpin, sebuah pelajaran yang relevan bagi negara-negara yang sering menjadi tuan rumah acara internasional.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah langkah pengamanan ekstrem seperti ini akan menjadi norma baru bagi perjalanan presiden AS, terutama di tengah meningkatnya ancaman terorisme dan ketegangan geopolitik. Apakah ini akan mempengaruhi kebijakan luar negeri AS di kawasan, atau justru semakin memicu ketegangan dengan Iran? Yang jelas, insiden ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap pemimpin dunia bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, dan setiap langkah pengamanan, sekecil apa pun, memiliki alasan yang mendalam.



