Kiper Bekas Kondektur Bus: Benjamin Asare, Pahlawan Tak Terduga Ghana di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Benjamin Asare, kiper Ghana berusia 33 tahun, tampil gemilang dengan 19 penyelamatan saat menahan imbang Inggris 0-0 dan membawa Ghana ke ambang babak 32 besar.
- Karier Asare penuh liku: sempat putus asa akibat patah kaki, bekerja sebagai kondektur bus, dan baru debut timnas di usia 32 tahun.
- Kisah Asare menjadi inspirasi bagi pemain sepak bola di negara berkembang, termasuk Indonesia, bahwa kerja keras dan ketekunan bisa mengalahkan keterbatasan finansial.

Kiper Ghana, Benjamin Asare, menjelma menjadi pahlawan nasional yang tak terduga di Piala Dunia 2026. Dalam laga kedua Grup L melawan Inggris, ia melakukan 19 penyelamatan—jumlah terbanyak dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak 2014—dan memastikan hasil imbang 0-0 yang hampir mengamankan tiket Ghana ke babak 32 besar. Kini, Asare bersiap menghadapi Kroasia pada laga pamungkas, Sabtu (28/6), dengan misi menjaga clean sheet lagi.
Perjalanan Asare menuju panggung dunia sungguh di luar dugaan. Pada 2021, ia mengalami patah kaki yang mengancam kariernya. Banyak pihak menyarankan pensiun, namun Asare menolak menyerah. Sebelum menjadi kiper profesional, ia sempat bekerja sebagai kondektur bus dan berbagai pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup. Hingga tahun lalu, ia masih naik angkutan umum ke tempat latihan dan hidup pas-pasan dari sepak bola.
Debutnya di timnas Ghana baru terjadi pada Maret 2025, saat usianya sudah 32 tahun. Dalam enam laga kualifikasi Piala Dunia, ia mencatat lima clean sheet, dan kini menambah dua lagi di putaran final. Penampilannya melawan Inggris membuat neneknya menangis haru dan para penggemar berpesta di depan rumahnya di Accra.
Pelatih Ghana, Carlos Queiroz, yang jarang memuji individu, memberikan apresiasi khusus. “Saya biasanya menghindari membicarakan pemain secara personal, tapi dia layak mendapat tepuk tangan. Penampilannya brilian, berkat kualitasnya dan kerja keras tim,” ujar Queiroz. Sementara Asare sendiri mengaku tidak gentar menghadapi bintang seperti Harry Kane. “Menghadapi Harry Kane biasa saja. Saya selalu ingin membuktikan diri,” katanya.
Kisah Asare memiliki resonansi kuat di Indonesia, di mana banyak pemain sepak bola berasal dari latar belakang ekonomi sulit dan minim dukungan infrastruktur. Perjuangannya dari kondektur bus hingga kiper papan atas Piala Dunia menjadi bukti bahwa bakat dan kerja keras bisa menembus batasan finansial. Di tengah gempuran pemain naturalisasi dan liga yang semakin komersial, cerita Asare mengingatkan bahwa sepak bola tetap menjadi olahraga rakyat.
Ghana kini hanya membutuhkan hasil imbang melawan Kroasia di Philadelphia untuk memastikan posisi kedua Grup L. Jika Inggris tergelincir melawan Panama, Ghana bahkan berpeluang menjadi juara grup. Namun, apa pun hasilnya, nama Benjamin Asare telah terukir sebagai simbol ketangguhan dan inspirasi bagi jutaan pemimpi di Afrika dan Asia.



