Belasan Demonstran #IndonesiaSekarat di Surabaya Diamankan Polisi, Ricuh Usai Magrib
Baca dalam 60 detik
- Polrestabes Surabaya mengamankan belasan peserta aksi #IndonesiaSekarat setelah unjuk rasa di Gedung Grahadi berujung ricuh, Jumat malam.
- Kerusuhan dipicu aksi perusakan dan pelemparan oleh sekelompok massa setelah aparat memberikan ruang aspirasi sejak sore.
- Front Anti Kapitalisme yang mengorganisir aksi menuntut penurunan harga BBM dan sembako, serta penghentian program MBG dan reklamasi.

Polrestabes Surabaya menangkap belasan orang dalam demonstrasi #IndonesiaSekarat yang berlangsung di kawasan Gedung Negara Grahadi, Jumat (26/6) malam, setelah aksi yang sempat berjalan damai berubah menjadi ricuh. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan menyatakan jumlah pasti masih dihitung, namun diperkirakan sekitar belasan orang diamankan beserta barang bukti dan sejumlah kendaraan.
Menurut Luthfie, aparat telah memberikan ruang bagi massa untuk menyampaikan aspirasi sejak sore hari. Namun situasi memanas setelah pukul 18.00 WIB, ketika sekelompok orang mulai melakukan perusakan dan pelemparan. "Kita imbau untuk berhenti, tapi mereka terus melakukannya, sehingga membahayakan masyarakat dan keselamatan mereka sendiri," ujarnya. Pasukan Dalmas dan Anti Huru-hara kemudian dikerahkan untuk memukul mundur massa secara bertahap dari Bundaran Air Mancur Balai Pemuda.
Luthfie mengklaim tidak ada korban luka dalam proses pembubaran, dan water cannon hanya digunakan untuk memadamkan api yang dinyalakan demonstran, bukan untuk membubarkan massa. Salah satu fasilitas yang rusak adalah pagar Gedung Negara Grahadi. Polisi menyayangkan insiden ini karena sejak awal berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi penyampaian aspirasi yang santun.
Sebelumnya, sekitar seratusan orang dari berbagai elemen masyarakat sipil—mahasiswa, buruh, pelaku UMKM—yang tergabung dalam Front Anti Kapitalisme menggelar longmars dari Monumen Kapal Selam menuju Gedung Grahadi. Mereka membentangkan spanduk besar di jembatan penyeberangan dan menutup Jalan Gubernur Suryo, sehingga arus lalu lintas dialihkan. Massa bergantian berorasi dan membakar pakaian serta barang bekas di tengah jalan.
Juru bicara Front Anti Kapitalisme, Septia, yang juga seorang pelaku UMKM, menyatakan aksi ini merupakan eskalasi protes masyarakat sipil. "Hari ini adalah perpanjangan perlawanan Kota Surabaya. Apa-apa mahal, bahan pokok naik," katanya. Tuntutan utama mereka adalah penurunan harga BBM dan kebutuhan pokok, penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, serta penciptaan lapangan kerja layak. Isu lokal seperti reklamasi Surabaya Waterfront Land juga turut digaungkan, bersama tuntutan pembebasan tahanan politik.
Kepala Biro Kampanye HAM KontraS Surabaya, Zaldi Maulana, yang mendampingi massa, belum bisa memastikan jumlah demonstran yang ditangkap dan masih melakukan pemantauan serta koordinasi di lapangan.
Aksi #IndonesiaSekarat di Surabaya ini menjadi cermin meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat bawah. Dengan 11 tuntutan yang diajukan—mulai dari pencabutan UU Polri dan TNI hingga pembubaran parlemen—gelombang protes sipil menunjukkan bahwa keresahan tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga struktural. Pertanyaan yang tersisa: akankah pemerintah merespons tuntutan ini dengan kebijakan konkret, atau justru memperkuat aparat keamanan?



