Usyk Lepas Semua Sabuk Juara, Tapi Belum Gantung Sarung Tangan
Baca dalam 60 detik
- Petinju kelas berat Oleksandr Usyk mengosongkan tiga sabuk juara dunianya, membuka peluang bagi petinju lain untuk berebut gelar.
- Keputusan ini diambil Usyk untuk menghindari kewajiban melawan penantang wajib dan memberi ruang bagi dirinya menentukan pertarungan pamungkas.
- Langkah Usyk membuat divisi kelas berat semakin terbuka, dengan Agit Kabayel, Frank Sanchez, dan Moses Itauma kini berpeluang menjadi juara.

Oleksandr Usyk, juara dunia kelas berat tak terkalahkan, secara mengejutkan mengumumkan akan melepaskan seluruh sabuk gelarnya—WBA super, WBC, dan IBF—namun menegaskan bahwa ia belum pensiun. Keputusan ini langsung mengguncang peta persaingan divisi kelas berat yang selama bertahun-tahun didominasi petinju asal Ukraina tersebut.
Dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosialnya, Jumat (14/7), Usyk menyebut langkah ini sebagai keputusan yang telah dipertimbangkan matang. “Ini bukan akhir cerita. Kelanjutannya masih ada di depan,” tulisnya. Dalam video terpisah, ia menambahkan, “Saya meninggalkan sabuk, bukan olahraga ini. Saya masih punya satu tarian terakhir.”
Usyk, yang kini berusia 39 tahun, mengantongi rekor profesional 25 kemenangan tanpa kekalahan. Terakhir kali ia naik ring pada Mei lalu, menekuk Rico Verhoeven di ronde ke-11 dalam laga yang berlangsung alot di Mesir. Sebelum pertarungan itu, Usyk sempat menyatakan masih ingin bertanding dua kali lagi sebelum memutuskan pensiun.
Keputusan Usyk melepas sabuk secara otomatis membatalkan kewajibannya melawan penantang wajib dari berbagai badan sanksi. WBC sebelumnya telah memerintahkan Usyk untuk menghadapi Agit Kabayel, petinju Jerman tak terkalahkan yang dianggap paling pantas mendapat kesempatan. Kini, Kabayel berpotensi langsung diangkat menjadi juara penuh, bukan sekadar juara interim.
Di sisi lain, Frank Sanchez menduduki peringkat satu IBF, sementara Murat Gassiev memegang gelar WBA regular. Petinju muda Inggris, Moses Itauma, juga mulai melihat jalan menuju gelar dunia semakin terbuka. Dengan kosongnya tiga sabuk, persaingan di puncak kelas berat menjadi semakin sengit dan tidak terduga.
Bagi penggemar tinju Indonesia, langkah Usyk ini menarik untuk dicermati. Meski tidak ada petinju Tanah Air yang terlibat langsung, dinamika divisi kelas berat selalu menyedot perhatian global. Keputusan Usyk membuka peluang bagi petinju Asia, termasuk dari Jepang atau Filipina, untuk bersaing di level tertinggi. Apalagi, dengan tidak adanya dominasi tunggal, ajang perebutan gelar bisa semakin sering digelar di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara.
Usyk sendiri mengaku belum pensiun dan masih ingin menjalani satu pertarungan lagi—yang ia sebut sebagai “tarian terakhir”. Kemungkinan besar, laga itu adalah rematch melawan Rico Verhoeven, yang hampir mengalahkannya di Mesir. Namun, dengan bebas dari tekanan mempertahankan sabuk, Usyk kini punya kendali penuh untuk memilih lawan dan momen yang tepat.
Pertanyaan besarnya: akankah Usyk benar-benar gantung sarung tangan setelah satu laga lagi, atau justru kembali merebut sabuk yang ia lepas? Yang jelas, divisi kelas berat kini memasuki era baru tanpa seorang raja mutlak.



