Badai Tropis Dolphin Lumpuhkan Shanghai: 900 Penerbangan Batal, 760 Ribu Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 900 penerbangan di dua bandara utama Shanghai dibatalkan akibat badai Dolphin yang memicu banjir di China timur.
- Evakuasi massal menyentuh angka 760 ribu orang, dengan Zhejiang dan Fujian menjadi wilayah terdampak paling parah.
- Dampak Dolphin meluas hingga Filipina, memicu longsor yang menewaskan 19 orang dan mengungsi hampir 100 ribu jiwa.

Badai tropis Dolphin yang menerjang pesisir timur China sejak Minggu telah melumpuhkan aktivitas penerbangan di Shanghai. Pada Senin pagi, otoritas bandara membatalkan lebih dari 900 jadwal penerbangan dari Bandara Hongqiao dan Pudong, atau sekitar 40 persen dari total jadwal harian. Ini menyusul pembatalan 1.300 penerbangan pada hari sebelumnya, menjadikan gangguan transportasi udara terparah dalam beberapa tahun terakhir di kota metropolitan tersebut.
Dolphin, yang sempat menguat menjadi topan sebelum mendarat di Taizhou, Provinsi Zhejiang, membawa angin kencang hingga 151 kilometer per jam. Badai ini juga mengguyur kawasan utara Taiwan sepanjang akhir pekan sebelum akhirnya melemah menjadi badai tropis. Pemerintah setempat telah memerintahkan evakuasi terhadap sedikitnya 760 ribu warga, dengan Zhejiang mencatat lebih dari 390 ribu orang mengungsi, sementara Shanghai dan Fujian masing-masing mengevakuasi 210 ribu dan 160 ribu jiwa.
Dampak badai tidak hanya berhenti pada transportasi udara. Shanghai juga menangguhkan sejumlah jalur metro, sementara China Railway Chengdu menghentikan operasi 115 kereta api. Di Kota Yueqing, Zhejiang, tim penyelamat masih mencari warga yang terjebak di rumah-rumah yang terendam banjir. Pihak berwenang mengeluarkan peringatan dini terhadap risiko banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Hangzhou, ibu kota Zhejiang, menutup sementara kawasan wisata Danau Barat yang ikonik, bersama kuil, taman, dan museum, dengan rencana pembukaan kembali pada Selasa.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap badai tropis yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pola siklon tropis di Pasifik Barat dapat memengaruhi cuaca di wilayah Indonesia, terutama dalam membentuk awan hujan yang ekstrem. Meski Dolphin tidak berdampak langsung ke Indonesia, intensifikasi muson yang dipicunya telah menyebabkan bencana di Filipina, menunjukkan bagaimana satu badai dapat memicu efek berantai di kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu, badai tropis Chan-hom diperkirakan akan menghantam pantai Pasifik Jepang pada Selasa hingga Rabu. Dengan kecepatan angin 83 kilometer per jam, badai ini diprediksi menguat sebelum mencapai daratan. Jepang, yang baru saja pulih dari musim hujan ekstrem, kembali bersiap menghadapi potensi banjir dan tanah longsor. Situasi ini menunjukkan bahwa musim badai tahun ini masih jauh dari usai, dengan beberapa siklon aktif secara bersamaan di Pasifik Barat.
Di Filipina, Dolphin tidak secara langsung menerjang, tetapi memperkuat angin muson yang memicu banjir dan tanah longsor di Luzon. Sebuah longsor di Kota Baguio pada Minggu malam menewaskan 10 orang dan melukai tiga lainnya. Korban jiwa ini menambah daftar panjang korban tewas akibat hujan deras selama hampir seminggu, yang kini mencapai 19 orang. Lebih dari satu juta warga terdampak, dengan sekitar 98.000 orang mengungsi dari rumah mereka. Pemerintah setempat masih melakukan pencarian dan penyelamatan, sementara bantuan kemanusiaan mulai berdatangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana negara-negara di kawasan Asia Timur dan Tenggara dapat memperkuat infrastruktur dan sistem peringatan dini mereka menghadapi badai yang semakin intensif. Bagi Indonesia, pelajaran dari Dolphin adalah pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang dipicu oleh dinamika atmosfer global. Apakah sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi di dalam negeri sudah cukup tangguh untuk menghadapi skenario serupa? Ini menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda.



