Jaringan Scam Chen Zhi: Empat Warga Singapura Jadi Asisten Pribadi Bos Sindikat Global
Baca dalam 60 detik
- Investigasi The Straits Times mengungkap empat warga Singapura yang bekerja sebagai asisten pribadi untuk tokoh kunci sindikat kejahatan transnasional pimpinan Chen Zhi, yang berbasis di Kamboja.
- Mereka menikmati gaya hidup mewah—jet pribadi, mobil super, dan gaji tinggi—sebelum sanksi AS pada Oktober 2025 memaksa mereka memutus hubungan.
- Kasus ini menyoroti kerentanan individu terjebak dalam jaringan pencucian uang global, dengan implikasi bagi pengawasan korporat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Empat warga Singapura yang direkrut antara 2017 dan 2019 untuk menjadi asisten pribadi tokoh-tokoh kunci di balik sindikat kejahatan global pimpinan taipan Kamboja Chen Zhi kini menjadi sorotan setelah investigasi The Straits Times mengungkap peran mereka dalam jaringan yang oleh Departemen Keuangan AS disebut sebagai mesin pencuci uang senilai miliaran dolar.
Alfred Law Hon Kit, Ryan Lee Chee Keong, Jason Teo Jing Shen, dan Alex Lim Zhongliang—empat nama yang sebelumnya tak dikenal publik—ternyata bekerja untuk Chen Sokly dan Xiong Huajun, dua tokoh sentral dalam Prince Holding Group, konglomerat yang dituduh AS sebagai kedok operasi kriminal. Mereka direkrut melalui kenalan atau perkenalan di bar, lalu dalam beberapa tahun menikmati fasilitas jet pribadi, mobil mewah, dan gaji hingga S$8.000 per bulan untuk Lim, seperti terungkap dalam kontrak kerjanya.
Investigasi yang memakan waktu enam bulan ini menelusuri jejak mereka melalui ratusan dokumen resmi, manifes penerbangan, dan catatan perusahaan. Lee dan Teo, misalnya, terdaftar dalam manifes penerbangan jet pribadi pada 23 April 2019 dari Singapura ke Palau, bersama Chen Sokly, Xiong Huajun, dan Dai An—tokoh yang kemudian masuk daftar sanksi AS. Pesawat tersebut milik Hu Xiaowei, yang oleh otoritas AS diidentifikasi sebagai orang kedua di bawah Chen Zhi.
Ketika sanksi AS dijatuhkan pada Oktober 2025, ketiganya—Law, Lee, dan Teo—mengaku tidak mengetahui aktivitas kriminal di balik perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka menyatakan telah memutus semua hubungan dengan Chen Zhi dan rekan-rekannya setelah sanksi diumumkan. Namun, jejak digital mereka—seperti unggahan Law di media sosial yang memamerkan jam tangan mewah dan penerbangan pribadi—menunjukkan gaya hidup yang sulit dilepaskan dari lingkaran kekuasaan sindikat.
Konteks Indonesia menjadi relevan mengingat kawasan Asia Tenggara kerap menjadi tempat persinggahan dana ilegal. Pengamat kepatuhan di Jakarta menilai kasus ini menunjukkan betapa mudahnya individu profesional—termasuk dari negara dengan reputasi kepatuhan tinggi seperti Singapura—terjebak dalam jaringan pencucian uang tanpa sadar. "Mereka mungkin hanya melihat pekerjaan sebagai asisten pribadi, tetapi secara tidak langsung memfasilitasi aliran dana kotor," ujar seorang analis kepatuhan yang enggan disebut namanya.
Chen Zhi sendiri telah diekstradisi ke Beijing pada Januari 2026, menyusul penangkapannya atas tuduhan pencucian uang dan penipuan. Sementara itu, Li Xiong, mantan ketua Huione Group—yang oleh AS disebut sebagai pusat pencucian aset virtual—juga telah diekstradisi ke Beijing pada April. Keduanya kini menghadapi proses hukum di Tiongkok, sementara jaringan perusahaan mereka di berbagai negara—dari Mauritius hingga Kanada—mulai dibubarkan atau ditinggalkan.
Bagi para asisten pribadi yang kini berusaha menjauh, pertanyaan besar masih menggantung: apakah mereka sekadar korban keadaan atau bagian dari rantai kejahatan yang sadar? Hingga kini, belum ada tuntutan hukum terhadap mereka, tetapi otoritas di Singapura dan Taiwan masih memburu beberapa nama lain, termasuk Karen Chen Xiuling dan Cliff Teo Kang Yeow, yang diduga terkait langsung dengan aktivitas Prince Group. Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik kemewahan yang ditawarkan, selalu ada harga yang harus dibayar—dan tidak semua orang menyadarinya sebelum terlambat.



