Ancaman Serangan Beruang Memicu Penurunan Drastis Pendaki di Jepang: Data Smartphone Ungkap Fakta
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan pendaki ke 100 gunung terkenal Jepang turun hingga 34% di Tohoku dan 32% di Hokkaido pada April-Juni 2026 dibanding periode sama 2024, menurut analisis data lokasi smartphone.
- Wilayah dengan serangan beruang fatal terbanyak, seperti Akita dan Iwate, mengalami penurunan pendaki paling tajam, mencapai 46% di Gunung Hachimantai.
- Para ahli memperkirakan kekhawatiran akan keselamatan menjadi faktor utama, namun menekankan bahwa beruang di pegunungan cenderung menghindar dan langkah pencegahan sederhana dapat mengurangi risiko.

Jumlah pendaki yang mendaki gunung-gunung terkenal di Jepang utara merosot lebih dari 30 persen pada periode April hingga Juni tahun ini dibandingkan dua tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi di kawasan yang selama ini menjadi sorotan akibat rentetan serangan beruang mematikan, demikian hasil analisis data lokasi ponsel pintar yang dirilis pada Senin (10/8).
Data yang dihimpun dari 100 gunung populer atau yang dikenal sebagai "hyakumeizan" menunjukkan penurunan kunjungan sebesar 34 persen di wilayah Tohoku, timur laut Honshu, dan 32 persen di Hokkaido jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024. Secara nasional, angka kunjungan ke seratus gunung tersebut merosot 18 persen.
Analisis yang dilakukan perusahaan IT asal Tokyo, Uneri Inc., bersama Kyodo News ini memanfaatkan data lokasi dari aplikasi ponsel dengan izin pengguna, berfokus pada orang-orang yang berada dalam radius 500 meter dari puncak gunung. Hasilnya, tren penurunan ini tidak merata; wilayah yang selama ini menjadi langganan serangan beruang menunjukkan angka yang jauh lebih buruk.
Di Tohoku, Gunung Hachimantai yang membentang di prefektur Iwate dan Akita mencatat penurunan pendaki hingga 46 persen dibandingkan 2024. Sementara Gunung Adatara di Fukushima turun 27 persen. Kondisi serupa terjadi di Hokkaido, di mana penurunan kunjungan semakin dalam setelah sebelumnya hanya 18 persen pada 2025. Bahkan, jalur pendakian Gunung Rausu sempat ditutup total setelah serangan beruang coklat fatal pada musim panas lalu.
Kementerian Lingkungan Jepang mencatat Akita memiliki 59 kasus serangan beruang hitam pada tahun fiskal 2025, tertinggi di antara 47 prefektur, disusul Iwate dengan 39 kasus. Total sembilan orang tewas akibat serangan beruang di dua prefektur tersebut. Angka-angka ini menjadi latar yang mencekam bagi para pendaki, terutama mereka yang awalnya berniat menikmati alam.
Kiyoshi Yamauchi, profesor madya manajemen satwa liar di Universitas Iwate yang khusus meneliti ekologi beruang, menilai rentetan serangan fatal sepanjang tahun lalu dan tahun ini telah meningkatkan kecemasan para pendaki. "Banyak serangan terjadi saat orang mengumpulkan sayuran liar atau di dekat pemukiman. Beruang di pegunungan cenderung waspada dan sering melarikan diri saat mencium keberadaan manusia," jelasnya. Namun ia mengingatkan bahwa pertemuan mendadak di jalur pendakian atau bertemu induk beruang yang membawa anaknya tetap berisiko tinggi.
Menariknya, penurunan kunjungan tidak hanya terjadi di wilayah yang dikenal sebagai habitat beruang. Di Kyushu, pulau paling selatan Jepang yang diyakini tidak dihuni beruang, angka kunjungan juga turun 11 persen. Sementara Gunung Kumotori yang berada di perbatasan Tokyo, Saitama, dan Yamanashi mencatat penurunan 33 persen, seiring laporan serangan beruang di sekitarnya. Hal ini mengindikasikan bahwa persepsi risiko, bukan hanya risiko aktual, memengaruhi minat pendakian.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Dengan meningkatnya minat masyarakat Indonesia terhadap aktivitas outdoor dan pendakian gunung, konflik antara manusia dan satwa liar, seperti harimau atau beruang madu di beberapa wilayah, bisa menjadi isu yang relevan. Pengelola taman nasional dan komunitas pendaki di Indonesia dapat belajar dari pendekatan Jepang dalam menyeimbangkan keselamatan publik dengan konservasi, termasuk pentingnya data akurat untuk memetakan risiko dan merancang kebijakan yang tepat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah tren penurunan ini akan berlanjut atau justru menjadi momentum bagi pengelola gunung dan pemerintah daerah untuk meningkatkan langkah-langkah mitigasi. Edukasi publik, pemasangan tanda peringatan, dan pengelolaan jalur pendakian yang lebih baik menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan para pendaki tanpa mengorbankan aspek keselamatan.



