Korea Selatan Gelontorkan Rp15.000 Triliun untuk Pabrik Chip dan AI
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Korea Selatan mengumumkan investasi sekitar 1.000 triliun won (setara Rp15.000 triliun) untuk membangun klaster semikonduktor dan pusat data AI di luar Seoul.
- Proyek ini merupakan respons terhadap dominasi Taiwan, China, dan Jepang dalam rantai pasok chip global, sekaligus upaya mengurangi ketimpangan ekonomi antarwilayah.
- Investasi raksasa ini berpotensi memicu perang harga chip dan mengubah peta persaingan teknologi global, termasuk dampaknya terhadap pasokan komponen elektronik di Indonesia.

Korea Selatan resmi meluncurkan rencana investasi raksasa senilai sekitar 1.000 triliun won (setara US$1 triliun atau Rp15.000 triliun) untuk membangun ekosistem manufaktur semikonduktor dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun ke depan. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Seoul tidak ingin tertinggal dalam perlombaan teknologi global yang kian panas.
Presiden Lee Jae-myung, dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin (10/6), menyebut proyek ini sebagai salah satu dari "Tiga Mega Proyek" yang mencakup pembangunan pusat produksi chip baru, data center, dan teknologi robotika. Lee menekankan bahwa pengembangan ini bukan hanya soal daya saing industri, tetapi juga soal "survival" atau kelangsungan hidup Korea Selatan di tengah konsentrasi ekonomi yang terlalu terpusat di Seoul.
Dalam acara yang sama, Lee tampil bersama pimpinan Samsung dan SK Hynixโdua raksasa chip Korea yang menjadi pemasok utama bagi Nvidia, perusahaan AI asal AS. Kedua perusahaan itu diperkirakan akan membangun pusat manufaktur semikonduktor di kawasan barat daya Korea, jauh dari pusat industri yang selama ini terkonsentrasi di Seoul. Lee juga mengumumkan rencana pembangunan hub infrastruktur AI di berbagai daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan persaingan regional. Taiwan, China, dan Jepang sama-sama gencar menggelontorkan dana besar untuk membangun pabrik chip dan teknologi AI. Permintaan semikonduktor yang melonjak akibat booming AI telah menciptakan kelangkaan global, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga komponen. Pekan lalu, Apple dan Microsoft menaikkan harga sejumlah perangkat mereka karena biaya komponen yang lebih tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor besar perangkat elektronik dan komponen chip, Indonesia bisa merasakan dampak dari perubahan harga pasokan global. Jika produksi chip Korea Selatan meningkat drastis, bukan tidak mungkin harga gadget dan perangkat AI di dalam negeri justru bisa lebih stabil atau bahkan turun dalam jangka menengah. Namun, di sisi lain, perang investasi antarnegara produsen chip juga berpotensi memicu ketidakpastian pasokan jika terjadi pergeseran aliansi dagang.
Meski optimisme tinggi, sebagian investor mulai khawatir dengan besarnya dana yang dikucurkan ke sektor AI. Kekhawatiran akan gelembung investasi (bubble) sempat membuat beberapa saham teknologi terkoreksi dalam beberapa hari terakhir. Namun, Lee tetap yakin bahwa Korea harus bergerak cepat. "Kita harus mengamankan elemen inti AI lebih cepat dari negara mana pun," ujarnya. "Semikonduktor, AI fisik, dan pusat data AI adalah tiga poros untuk lompatan besar."
Ke depan, pertanyaan terbesarnya bukan hanya apakah Korea Selatan mampu mengejar ketertinggalan dari Taiwan dan AS, tetapi juga bagaimana proyek raksasa ini akan mengubah peta persaingan globalโdan apakah Indonesia siap memanfaatkan peluang di tengah perang chip yang semakin sengit.



