Madonna Kecam AI dalam Musik: Lawan dari Seni Sejati
Baca dalam 60 detik
- Madonna menyebut algoritma dan kecerdasan buatan bertolak belakang dengan esensi seni, karena menghambat pengambilan risiko.
- Ia mengkritik industri musik yang kini lebih mementingkan jumlah pengikut di media sosial ketimbang kualitas karya.
- Pelantun 'Ray of Light' itu memilih 'menghilang' dari dunia maya saat berkarya demi menjaga imajinasi dan koneksi dengan realitas.

Madonna, ikon pop berusia 67 tahun, melontarkan kritik tajam terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri musik. Dalam wawancara dengan Vogue Italia, ia menegaskan bahwa AI dan algoritma adalah “lawan dari membuat seni” karena menghilangkan unsur risiko dan eksperimentasi yang menjadi inti kreativitas.
Pernyataan itu muncul di tengah maraknya penggunaan AI untuk menciptakan lagu, mulai dari menghasilkan melodi hingga meniru suara artis. Madonna menilai tekanan pada musisi untuk membangun basis penggemar di media sosial justru mengalihkan fokus dari proses artistik. “Sekarang untuk mendapat kontrak rekaman, Anda harus memikirkan berapa banyak pengikut,” ujarnya, mengutip lirik lagunya 'Bring Your Love' yang berbunyi “Jangan coba mengalihkan perhatianku dengan angka.”
Bagi Madonna, seni lahir dari interaksi langsung antar kreator. “Dulu Anda berkumpul dengan pelukis, musisi, penari, dan seniman di satu tempat, bekerja dari tempat yang murni untuk satu sama lain,” kenangnya. Kini, ia merasa pengalaman itu hilang digantikan oleh obsesi pada angka streaming dan grafik penjualan. Algoritma, menurutnya, justru mendorong keseragaman dan menghindari risiko—sesuatu yang bertolak belakang dengan jiwa seni.
Untuk menjaga kreativitas, Madonna memilih “menghilang” dari media sosial saat mengerjakan album baru. “Kamu harus memiliki ketenangan dan hari-hari di mana kamu hanya terhubung dengan alam, anak-anakku, kuda-kudaku,” katanya. Ia mengakui bahwa Instagram, meskipun memiliki jutaan pengikut, bisa menjadi “pembunuh jiwa” dan membuatnya depresi jika digunakan terlalu lama. “Mengapa saya memberikan kekuasaan pada entitas yang tidak ada ini atas jiwa, otak, dan pandangan saya terhadap dunia?” tanyanya retoris dalam wawancara dengan Interview Magazine.
Kritik Madonna ini relevan bagi industri musik Indonesia yang juga mulai diramaikan oleh lagu-lagu hasil AI. Beberapa musisi Tanah Air mulai bereksperimen dengan teknologi, namun kekhawatiran akan hilangnya sentuhan manusiawi dalam berkarya semakin mengemuka. Di tengah gempuran konten digital, pernyataan Madonna menjadi pengingat bahwa seni sejati membutuhkan ruang untuk hening, refleksi, dan koneksi nyata—bukan sekadar mengejar validasi virtual.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah industri musik menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai artistik yang otentik? Ataukah AI justru akan semakin menggeser peran manusia sebagai pencipta?



