Istana Tepis Wacana Prabowo-Gibran Dua Periode: Prioritaskan Kerja, Bukan Politik
Baca dalam 60 detik
- Mensesneg Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah belum mempertimbangkan perpanjangan masa jabatan Prabowo-Gibran karena fokus pada penyelesaian masalah ketenagakerjaan, guru, dan hilirisasi.
- PSI, melalui Ketua Harian Ahmad Ali, justru optimistis Prabowo akan kembali menggandeng Gibran di Pilpres 2029, menilai putra sulung Jokowi sebagai kandidat cawapres paling mentereng.
- Respons berbeda ini mencerminkan tarik-menarik antara prioritas kerja eksekutif dan ambisi politik partai pendukung, yang berpotensi memanaskan peta koalisi menjelang 2029.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menampik wacana perpanjangan masa kepemimpinan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjadi dua periode yang digulirkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Di hadapan awak media di kompleks parlemen, Jumat (26/6), Pras menegaskan bahwa prioritas pemerintah saat ini adalah bekerja, bukan memikirkan skenario politik jangka panjang.
"Kita kalau mewakili pemerintah, mewakili Pak Presiden, yang penting fokus bekerja dulu. Kita belum berpikir mengenai hal itu," ujar Pras. Ia merinci sejumlah pekerjaan rumah yang masih menumpuk, mulai dari persoalan ketenagakerjaan, kesejahteraan guru, reformasi aparatur sipil negara (ASN), hingga hilirisasi industri. Menurutnya, seluruh energi pemerintah harus diarahkan ke sana.
Pernyataan ini keluar setelah Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali, pada Jumat (19/6) dalam siniar What the Fact Politics CNN Indonesia, menyatakan keyakinannya bahwa Prabowo akan kembali menggandeng Gibran di Pilpres 2029. Ali bahkan menyebut Gibran sebagai kandidat cawapres paling mentereng di antara nama-nama lain yang beredar. "Saya juga tidak yakin kalau Pak Prabowo tidak ambil kembali Mas Gibran," katanya.
Perbedaan sikap antara Istana dan PSI ini menarik dicermati. Di satu sisi, sinyal dari Mensesneg mencerminkan kehati-hatian pemerintah untuk tidak terjebak dalam perdebatan elektoral yang terlalu dini. Di sisi lain, PSI—partai yang didirikan oleh adik Gibran, Kaesang Pangarep—justru menghembuskan wacana tersebut sebagai bentuk loyalitas sekaligus upaya membangun narasi politik ke depan.
Bagi publik Indonesia, wacana ini mengingatkan pada dinamika koalisi yang kerap berubah. Jika Prabowo-Gibran benar-benar maju kembali, maka peta koalisi 2029 akan sangat dipengaruhi oleh keputusan partai-partai lain, termasuk PDIP yang hingga kini belum menentukan sikap. Namun, jika pemerintah tetap konsisten pada prioritas kerja, wacana ini bisa meredup sebelum benar-benar mengemuka.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah pernyataan Pras hanya sekadar basa-basi diplomatis, atau justru indikasi bahwa Istana ingin menjaga jarak dari ambisi partai politik? Yang jelas, publik akan terus mengawal apakah janji "fokus kerja" benar-benar diwujudkan, atau justru menjadi batu loncatan untuk agenda dua periode.



