Chrissy Metz Buka Suara soal GLP-1: Bukan Sekadar Tren, tapi Upaya Selamatkan Diri
Baca dalam 60 detik
- Aktris This Is Us, Chrissy Metz, mengaku memakai GLP-1 untuk mengatasi kecanduan makanan dan meningkatkan mobilitas fisiknya.
- Ia menyebut terapi ini membantunya mengurangi nyeri sendi dan peradangan, serta mendukung penampilannya di panggung Broadway.
- Metz sadar akan stigma publik terhadap obat pelangsing, namun menegaskan keputusannya murni untuk kesehatan jangka panjang.

Chrissy Metz, aktris yang namanya melekat lewat peran Kate Pearson di serial This Is Us, mengonfirmasi bahwa ia kini menjalani terapi GLP-1, obat penurun berat badan yang tengah menjadi perbincangan hangat. Keputusan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan langkah personal untuk mengatasi gangguan pola makan dan masalah kesehatan yang sudah lama membebani hidupnya.
Dalam wawancara dengan People, perempuan 45 tahun itu mengungkapkan bahwa ia mulai menggunakan GLP-1 untuk meredam 'food noise'โistilah untuk obsesi terus-menerus terhadap makananโyang selama ini menggerogoti konsentrasinya. "Saya sadar tidak semakin muda, dan ada riwayat obesitas di keluarga, terutama dari ayah saya. Saya sudah mencoba berbagai diet dan terapi, tapi tidak ada yang benar-benar berhasil," ujarnya.
Metz mengaku sempat skeptis terhadap obat-obatan penurun berat badan karena khawatir akan efek samping yang serius. Namun, pengalamannya sejauh ini justru berbanding terbalik. "Saya menikmati manfaat yang tidak pernah saya duga. Saya pikir obat ini tidak akan cocok, tapi ternyata luar biasa," katanya. Ia juga menyebut bahwa GLP-1 membantunya bergerak lebih lincah, mengurangi nyeri sendi dan peradangan, bahkan memungkinkannya tampil energik di panggung Broadway dalam musikal And Juliet.
Lebih jauh, Metz mengisahkan bagaimana ia selama bertahun-tahun memusuhi makanan karena didikan yang menganggap makanan tertentu sebagai musuh. Kini, ia merasa lebih damai. "Sangat menyenangkan tidak lagi memikirkan makanan setiap menit. Saya tidak lagi menyalahkan makanan, dan ini membantu saya menjalani hidup yang lebih aktif," jelasnya.
Keputusan Metz untuk terbuka tentang penggunaan GLP-1 datang di tengah perdebatan global mengenai obat-obatan semacam Ozempic dan Wegovy. Di Indonesia, fenomena serupa juga mulai merebak, terutama di kalangan kelas menengah perkotaan yang tergiur janji penurunan berat badan instan. Namun, pakar kesehatan mengingatkan bahwa obat ini seharusnya digunakan dengan resep dokter dan pengawasan ketat, bukan sebagai solusi gaya hidup semata.
Menanggapi potensi stigma, Metz dengan tegas menyatakan bahwa publik kerap menghakimi apa pun pilihannya. "Sebelumnya orang bertanya, 'Kenapa dia tidak pakai GLP-1?' Sekarang mereka akan tahu saya memakainya dan bertanya, 'Kenapa dia pakai GLP-1?'" katanya sambil tersenyum. Pernyataan ini menyiratkan bahwa tekanan sosial terhadap tubuh perempuan, terutama di industri hiburan, masih menjadi tantangan besar.
Fenomena GLP-1 di Indonesia sendiri memunculkan pertanyaan etis: apakah obat ini akan diatur ketat oleh BPOM, atau justru disalahgunakan sebagai 'jalan pintas' menuju tubuh ideal? Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan fisik, kisah Metz bisa menjadi pengingat bahwa setiap keputusan medis haruslah personal dan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti arus.



