Bek Albania Berat Djimsiti Hengkang dari Atalanta, Bergabung dengan Klub Promosi Liga Saudi Diriyah
Baca dalam 60 detik
- Bek senior timnas Albania, Berat Djimsiti, resmi pindah dari Atalanta ke klub promosi Liga Pro Saudi, Diriyah, pada bursa transfer musim panas ini.
- Kepindahan ini menandai tren pemain Eropa berpengalaman yang melirik kompetisi Arab Saudi, seiring meningkatnya daya tarik finansial dan ambisi olahraga negara tersebut.
- Diriyah akan langsung diuji dengan menghadapi Al Ahli, juara bertahan Liga Champions Asia, pada laga pembuka musim, yang bisa menjadi indikator awal kekuatan tim.

Bek veteran tim nasional Albania, Berat Djimsiti, resmi memutuskan untuk meninggalkan kompetisi elite Eropa dan memulai babak baru kariernya di Liga Pro Arab Saudi. Klub promosi Diriyah mengumumkan perekrutan pemain berusia 33 tahun tersebut pada Senin (10/8), sebuah langkah yang mempertegas semakin derasnya arus pemain berpengalaman dari Eropa menuju kompetisi Timur Tengah.
Djimsiti, yang telah mengoleksi 72 caps bersama Albania, bukanlah sosok sembarangan. Ia merupakan salah satu arsitek penting di balik keberhasilan Atalanta menjuarai Liga Europa pada 2024, torehan bersejarah bagi klub asal Bergamo tersebut. Pengakuan atas konsistensinya datang dalam bentuk penghargaan Pemain Terbaik Albania dua tahun beruntun, yakni pada 2025 dan 2026. Kepindahannya ke Diriyah tentu menjadi kehilangan besar bagi lini pertahanan Atalanta yang tengah bersaing di papan atas Serie A.
Bagi Diriyah, kedatangan Djimsiti bukan sekadar tambahan amunisi. Klub yang baru saja promosi ke kasta tertinggi sepak bola Saudi ini jelas mengincar lebih dari sekadar bertahan di liga. Dengan merekrut pemain sekaliber Djimsiti, mereka mengirim sinyal ambisi untuk langsung bersaing di papan tengah, bahkan mungkin menembus zona Asia. Langkah ini juga sejalan dengan strategi lebih luas Liga Pro Saudi yang gencar mendatangkan nama-nama besar untuk meningkatkan kualitas dan daya tarik kompetisi.
Ujian perdana Diriyah pun langsung terasa berat. Pada laga pembuka musim yang dijadwalkan 13 Agustus, mereka akan menjamu Al Ahli, tim yang baru saja mengangkat trofi Liga Champions Elite Asia. Pertandingan ini akan menjadi batu ujian awal sejauh mana kesiapan tim asuhan pelatih anyar tersebut, sekaligus panggung bagi Djimsiti untuk menunjukkan bahwa kualitasnya belum pudar meski usianya tak lagi muda.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Meski Liga 1 tidak berada dalam level yang sama dengan Liga Pro Saudi, tren perpindahan pemain ke liga dengan daya tarik finansial tinggi bisa menjadi pelajaran. Para pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri, seperti di Eropa atau Asia Timur, mungkin mulai melirik peluang di kompetisi yang lebih kaya, seperti Saudi atau Qatar. Namun, perlu diingat bahwa keputusan seperti ini tidak hanya soal uang, tetapi juga kesempatan bermain dan pengembangan karier jangka panjang, terutama bagi pemain yang masih dalam usia emas.
Di sisi lain, langkah Djimsiti juga memicu pertanyaan tentang arah karier pemain di usia senior. Apakah ini keputusan yang tepat secara sportif, atau sekadar mengejar kepastian finansial di penghujung karier? Sejarah menunjukkan banyak pemain yang sukses mentransisikan karier ke liga yang lebih santai, namun tak sedikit pula yang justru kehilangan performa. Bagi Djimsiti, tantangan terbesarnya adalah menjaga kebugaran dan adaptasi dengan gaya permainan yang berbeda, sementara sorotan publik tetap tertuju padanya.
Ke depan, pergerakan pemain seperti ini akan terus terjadi seiring menguatnya posisi Liga Pro Saudi sebagai salah satu tujuan utama pesepak bola dunia. Pertanyaannya, bagaimana keseimbangan antara gengsi kompetisi Eropa dan daya tarik finansial Timur Tengah akan membentuk peta persepak bolaan global? Dan apakah Indonesia suatu saat bisa ikut bersaing dalam bursa transfer pemain kelas dunia ini? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: sepak bola modern semakin tidak mengenal batas geografis.



